Rabu, 18 September 2019

Genmuda – Setelah hampir lebih dari 20 tahun diangkat ke layar lebar, “Dark Phoenix” menjadi pamungkas kisah para Mutan di bawah lisensi 20th Century Fox, –sebelum akhirnya resmi dibeli sama Disney.

Digarap sama Simon Kinberg filmnya mungkin belum bisa berbuat banyak di deretan Box Office bulan Juni. Akan tetapi kurang afdol kayaknya kalo Genmuda.com gak ngebahas film ini secara dalam buat Kawan Muda, –apalagi kalo kamu fans berat X-Men.

Tanpa perlu basa-basi kelamaan, mendingan langsung kamu baca aja ulasannya berikut ini. Iqra!

Perpecahan X-Men

20th Century Fox/2019

Setelah kejadian “X-Men First Class” dan “X-Men: Apocalypse”, para mutan di sekolah Profesor Charles Xavier (James McAvoy) kini dianggap sebagai superhero setelah berhasil menyelamatkan anggota NASA yang terjebak dalam serangan badai matahari.

Namun demikian misi penyelamatan itu malah harus dibayar mahal setelah Jean Grey (Sophie Turner) nyaris tewas setelah menyerap energi badai matahari. Hal inilah yang bikin Raven (Jennifer Lawrance) dan Xavier ‘perang urat’.

Menurut Raven para mutan seharusnya dijaga bukan dijadiin tameng pemerintah, tapi buat Xavier momentum tersebut malah bisa bikin mutan hidup bebas tanpa harus sembunyi-sembunyi.

Lebih lanjut keanehan mulai muncul pada diri Jean Grey. Kekuatan telepati miliknya semakin menggila, bahkan susah dikendalikan oleh Professor Xavier.

Klimaksnya amukan Jean malah harus menewaskan Raven. Dari situ alih-alih jadi pahlawan, para mutan kini malah jadi pihak yang paling diburu pemerintah dan perpecahan antar mutan semakin gak bisa dihindari.

Beast (Nicholas Hoult) menyalahkan Xavier atas semua kekacauan yang terjadi. Ia lantas mencari Magneto (Michael Fassbender) untuk mencari keberadaan Jean.

Di sisi lain Jean diam-diam dihasut oleh Smith (Jessica Chastain), seorang wanita misterius jelmaan makhluk luar angkasa yang mau memanfaatkan kekuatan Jean. Inilah yang konflik yang bakal disajiin sama “X-Men: Dark Phoenix”.

Menarik tapi terkesan buru-buru

20th Century Fox/2019

Secara ide cerita konflik yang ditawarin sama film ini terasa seru ketimbang “X-Men Last Stand” (2006) yang sama-sama nonjolin sisi lain dari sosok Jean Grey. Sayangnya penulis ngerasa kalo dialognya kayak dibikin terlalu buru-buru.

Bumbu drama yang pengen ditonjolin dari seorang mutan yang lagi galau, takut, dan sedih seolah gak bisa dirasain penonton, padahal film ini punya banyak adegan sedih yang pontensial bikin penonton baper.

Setali tiga uang, chemistry Jean Grey sama Cyclops (Tye Sheridan) sebagai sepasang kekasih di film ini malah terlihat lempeng sepanjang film. Pengorbanan yang ditampilin seolah ngalir tanpa kesan berarti. Sekali lagi, itu semua penulis rasain karena emang dialog yang ditampilin terkesan diburu-buru dan ‘dipas-pasin’.

Namun demikian bukan berarti cerita film ini gak punya catatan positif, meski sisi lain Dark Phoenix lebih banyak di-ekspos, penonton juga diajak ngelihat sisi plus minus dari sosok Charles Xavier dan Magnetto.

Keduanya seolah bertukar peran di film ini. Kawan Muda bisa ngerasain pemikiran Xavier yang visioner malah terkesan naif dan ambius bagi kehidupan mutan. Sedangkan Magnetto dengan sisi jahatnya malah lebih realistis buat ngelindungi mutan buat hidup secara damai dengan kaum mereka tanpa perlu campur tangan pemerintah.

Rasa dilematis kedua dedengkot mutan inilah yang menjadi daya tarik lain yang belum pernah kamu temuin di film-film X Men lainnya. Sedangkan puncak pertarungan di film “Dark Phoenix” jadi sajian paling epik yang siap menarik perhatian kamu di sepanjang durasi film.

Kesimpulan

via: Youtube
(Sumber: Istimewa)

Terlepas dari catatan tersebut film “Dark Phoenix” mungkin belum bisa dikatakan ideal sebagai penutup perjalan 20 tahun franchise X-Men. Gak jelek kok, tapi belum bisa juga dikatakan istimewa sebagai film terakhir yang punya ekspektasi besar.

Jika dibandingkan dengan “Logan” mungkin sisi dramanya masih belum bisa bikin kamu ter-enyuh baper. Namun demikian kalo kamu fans berat X-Men atau udah ngikutin film-film sebelumnya, Dark Phoenix tetep menawarkan keseruan dengan ciri khas X-Men sebagai superhero yang dominan dengan cerita humanis yang lahir dari mereka yang terbuang dan dikucilkan oleh masyarakat.

Di Indonesia film ini mulai tayang oada hari, Jumat (14/6). Kalo Kawan Muda penasaran dengan review di atas langsung aja tonton sendiri di bioskop favorit kamu. Happy watching!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.