Selasa, 22 Oktober 2019

Genmuda – Java Jazz Festival (JJF) 2017 langsung diserbu pengunjung di hari pertama, Jumat sore (3/3). Acaranya dibuka sama penampilan band remaja The BFG di panggung Demajors sekitar pukul 16.00 WIB, terus diakhiri dengan konsernya Kirk Whalum di Hall D2 dan Kinga and Irek Glyk di Hall C2 Sabtu (4/3) dini hari.

Kombinasi panggung outdoor-indoor yang direncanain Java Festival Production terasa mateng. Saat suntuk di ruang ber-AC, penonton bisa nikmatin udara terbuka sambil nge-Jazz. Kalo gerimis mulai turun, area beratap dan lobi senantiasa menjadi tempat perlindungan.

Akan tetapi, respon pengunjung terhadap berbagai kebijakan dan ide yang dicetusin panitia sangat beragam. Buat ngerangkum pujian dan keluhan penikmat musik, di bawah ini adalah beberapa plus-minus saat hari pertama Java Jazz Festival 2017 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

1. Artisnya banyak dan bagus-bagus

©Genmuda.com/2017 TIM
Penampilan Tulus di Hall D2 yang tampil berbarengan dengan Cristina Morrison di Hall C1 ©Genmuda.com/2017 TIM

Plusnya

Kalo ditotal, ada sekitar 170 penampil yang tersebar di 14 panggung selama tiga hari. Engga ada yang jelek. Semuanya keren-keren. Malah hampir semua artis unggulan festival Jazz lain nongol di JJF. Masuk aja ke salah satu panggung, kamu engga bakalan ngerasa bete nontonin konsernya.

Minusnya

Pengunjung jelas galau bukan kepalang. Apalagi, saat Tulus tampil di Hall D2 dan Cristina Morrison di Hall C1 tampil bersamaan. Atau waktu Mezzoforte di BNI Stage dan Fareed Haque – Tony Monaco di Hall A2 juga main barengan. Terpaksa mereka harus milih salah satu dan ngerelain yang lainnya buat ditonton saat JJF satu atau dua tahun berikutnya.

2. Panitia yang standby ada banyak

©Genmuda.com/2017 TIM
Kirk Whalum saat tampil di Hall D2 Java Jazz Festival 2017 ©Genmuda.com/2017 TIM

Plusnya

Keputusan Java Festival Production ngerekrut banyak panitia emang tepat. Pengunjung bisa menemukan panitia dalam jarak beberapa meter aja. Mereka juga standby ngawasin suasana dan siap ditanya-tanyain setiap saat.

Minusnya

Sayangnya, engga semua panitia paham informasi yang sama. Misalnya gini, ada panitia yang engga tau letak salah satu panggung, sementara panitia lain ada paham. Kasihan kan kalo ada pengunjung yang kebingungan arah.

3. Tersedia komputer penunjuk lokasi

©Genmuda.com/2017 TIM
Wotjek Pilichowski ©Genmuda.com/2017 TIM

Plusnya

Komputernya sangat interaktif. Ada animasi yang nunjukin lokasi dan jalur perlu ditempuh buat sampai ke suatu stage. Semua nama area dan pengisinya juga tertera di situ. Karena seru dipakai, antrean ke komputer interaktif ini sampai agak panjang juga, loh.

Minusnya

Mungkin karena kesalahan teknis atau keseringan dimainin, ada komputer informasi yang malah error. “Aku coba pakai untuk nyari lokasi panggung Demajors, tapi komputernya engga bisa. Terpaksa deh tanya sana-sini dan akhirnya ditunjukin,” kata salah satu pengunjung bernama Bella (20).

4. Engga pakai tiket tambahan

©Genmuda.com/2017 TIM
Penampilan Mezzoforte di JJF 2017 ©Genmuda.com/2017 TIM

Plusnya

Jelas, kebijakan satu tiket untuk semua panggung bikin penonton bebas keliling sana-sini nyari penampilan artis. Makanya panggung Mezzoforte bisa penuh bukan kepalang. “Cita-cita aku nonton Mezzoforte dan artis luar negeri yang keren-keren bisa kesampaian karena sistem tiketnya seperti ini,” kata Debby (22) yang dateng bareng Anita (22), dan Riri (23).

Minusnya

Sayangnya, engga semua pengunjung kenal sama banyak musisi Jazz legend yang sebenernya bisa ditonton tanpa perlu beli tiket tambahan. “Kalau ada tiket special show seperti tahun-tahun sebelumnya kan artisnya terkesan lebih boom!,” tutur Adel (23) dan Bella (17). (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.