Selasa, 23 April 2019
Ngulik

Nostalgi(l)a Jagoan 90an dalam Film ‘Power Rangers’

ki-ka: Naomi Scott, RJ Cyler, Dacre Montgomery, Ludi Lin, dan Becky G sebagai pemeran baru Power Rangers ©Lionstage

Genmuda – Nyaris 20 tahun berlalu, serial “Power Rangers” seolah menjadi bagian generasi 90an yang susah buat dilupakan. Sadar akan daya tarik tersebut, Saban Film dan Lionstage langsung membuat reboot film superhero tersebut. Engga tanggung-tanggung, kabarnya rumah produksi bakal menyiapkan tujuh sekuel buat film ini.

Tayang di Indonesia mulai Rabu (22/3), sutradara Dean Israelite ‘Project Almana’ (2015) berhasil mengemas lima rangers Zordon tersebut secara lebih kekinian dan ngena buat semua generasi. Tentunya bagi kamu yang lahir di periode 2000an pasti engga bakalan roaming dengan jalan cerita kok. Serius.

Kisah baru “Power Rangers”

LIONSTAGE
Dacre Montgomery berperan sebagai Jason (Rangers Merah) dalam film “Power Rangers” ©Lionstage

Dalam versi rebootnya Saban sengaja mempertahankan karakter lawas dengan wajah baru. Awal film diceritain kalo Zordon (Bryan Cranston) merupakan satu-satu rangers yang tersisa di bumi pada jutaan tahun yang lalu dan berhasil mengagalkan rencana Rita Repulsa (Elizabeth Banks) untuk menghancurkan planet bumi dengan ‘power coin.’

Usai bencana tersebut berakhir, Zordon dan Rita terkurung dalam inti bumi. Dan penonton langsung diajak kenalan sama lima anak muda, Jason (Dacre Montgomery), Kimberly (Naomi Scott), Billy (RJ Cyler), Trini (Becky G), dan Zack (Ludi Lin).

Muncul dalam latar belakang keluarga berbeda diiringi bumbu-bumbu masalah remaja (bullying, percintaan, dan masalah keluarga), kelima anak muda ini dipertemukan secara kebetulan di sebuah tambang emas yang mengantarkan mereka menemukan ‘power coin’ demi menjadi Power Rangers.

Sayangnya untuk berubah menjadi Power Rangers mereka harus melewati sejumlah tes dan pembuktian kepada Zordon. Di pihak lain, baik Zordon dan Rita ternyata memiliki maksud serta tujuan yang membuat jalan cerita film lebih kompleks tapi menarik diikuti.

Lebih fresh mengikuti perkembangan jaman

©Lionstage
Cuplikan adegan film “Power Rangers” ©Lionstage

Selain teknis efek, jalan cerita “Power Rangers” sengaja dibuat lebih masuk dan ngena sama penonton millennial. Maklum aja gaes, meski umurnya hampir 20 tahun lebih, hanya dua judul film “Power Rangers” yang bikin penonton rela dateng ke bioskop yaitu, “Mighty Morphin Power Rangers: The Movie” (1995) serta “Turbo: A Power Rangers Movie” (1997). Sisanya Saban hanya fokus pada serial TV doang.

Tak cuma itu, biar engga kaku-kaku banget John Gatins sebagai penulis skenario sengaja menyelipkan guyonan bagi film “Spider-Man” dan “Transformers.” Hasilnya “Power Rangers” konsep millennials pun punya efek yang hampir mirip sama dua film tersebut. 

Bahkan penulis merasakan suasana pertarungan Mega Zord dengan monster Rita Repulsa layaknya pertarungan Optimus Prime vs Megatron. Entah emang disengaja atau cuma kebetulan.

Yang kurang dan yang bagus

©Lionstage
Elizabeth Banks sebagai Rita Repulsa di film “Power Rangers” ©Lionstage

Meski film reboot lagi booming, sayang jalan cerita yang ditulis John Gatins terlihat kurang mantap. Khususnya pada sosok Rita Repulsa. Alih-alih menghadirkan gimmick villains jahat dan sedikit humoris, sosok Rita malah kurang berhasil meninggalkan dua kesan tersebut kepada penonton. Penulis sih ngerasa Banks terlihat abu-abu alias sisi jahat dan humoris engga dapet.

Dari segi efek, zirah (kostum) kece para rangers pun kurang terlihat epik saat dipakai bertarung. Meski lebih kekinian, Israelite malah terlihat dilematis saat memilih ekspresi wajah asli para rangers atau full menampilkan topeng mereka. Sayang doi malah memilih menggabungkan keduanya.

LIONSTAGE
RJ Cyler sebagai Billy terasa paling menghibur sekaligus menonjol di antara Rangers lainnya ©Lionstage

Untungnya, nyawa “Power Rangers” masih terselamatkan oleh sosok Ranger Biru/Billy yang diperankan oleh RJ Cyler. Meski digambarkan nerd dan menderita autis, akting doi mampu menghibur penonton dari awal hingga akhir film. Bahkan, jika penulis boleh memberi nilai, Cyler menjadi bintang utama di film ini di antara keempat rangers lainnya.

Menariknya lagi franchise “Power Rangers” emang selalu punya daya tarik dari segi kesetaraan gender, etnis, dan ras. Bahkan karakter Ranger Kuning di sini diceritakan mewakili LGBTQ. Tentunya itu semua disampaikan secara tersirat oleh sang sutradara. Dan terakhir, penonton generasi 90an juga bakal diajak bernostalgia dengan kehadiran dua rangers lawas di film ini sebagai cameo.

Kendati punya plus-minus, “Power Rangers” tetap menjadi film yang sangat sayang buat kamu lewatin. Kalo pengen nostalgi(l)a sama mereka, buruan deh tonton ke bioskop. FYI, jangan buru-buru cabut setelah selesai ya, karena masih kejutan di post creditsnya. “Go Go Power Rangers!”

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.