Minggu, 19 November 2017
Ngobrol Bareng

Ngomongin Politik, Sejarah, Hingga Real Madrid bareng Tsamara Amany

©Genmuda.com/2017 TIM©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda – Anak muda ngomongin politik emang bukan jadi hal yang baru-baru banget buat dibahas di Indonesia. Namun, gak banyak juga anak muda kekinian yang mau atau malah repot-repot ngobrol hingga terjun langsung di panggung politik, –yang katanya penuh intrik dan haus kekuasaan.

Di saat sebagian anak muda cuma bisa jadi ‘komentator pedas’ di dunia maya atas perubahan dinamika politik di negara kita, ada satu orang anak muda yang cukup punya nyali buat terjun langsung di dunia politik. Yup, anak muda yang Genmuda.com maksud adalah Tsamara Amany.

Cewek yang masih kuliah di Jurusan Komunikasi Semester 6 ini belakangan semakin dikenal publik usai perang argumen dengan orang nomor dua di DPR, Pak Fahri Hamzah terkait hak angket DPR atas KPK. Sikap yang tegas, komentar yang rasional, dan keberaniannya untuk menolak keputusan politis wakil rakyat di Senanyan seolah jadi angin seger buat calon-calon politisi muda di Indonesia.

Di tengah-tengah kesibukan doi yang juga baru mendapatkan kepercayaan sebagai ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), beberapa hari yang lalu Tsamara menyempatkan main ke kantor Genmuda.com buat ngobrol-ngobrol soal pengalamannya terjun di dunia politik.

Karena udah menjadi passionnya, saat ngobrolin politik semangat Tsamara juga sangat antusias dan berapi-api. Etapi gak cuma politik aja kok yang bakal diobrolin, kami juga ngebahas keseharian doi sebagai anak muda pada umumnya, loh.

Makanya kalo mau kenal lebih jauh sama doi? Yuk, langsung simak wawancaranya di bawah. Kuy lah!

Genmuda: Halo Tsamara, selain kuliah dan berkecimpung di dunia politik lagi sibuk apa lagi nih?

Tsamara: Kuliah dan berpolitik tetep dua fokus utama, kalo yang lain-lain paling aku suka nulis aja. Kayaknya kalo gak nulis gak asik aja gitu. Jadi harus dituangkan lewat tulisan.

 

Genmuda: Dari sekian banyak tulisan kamu di beberapa media yang udah dibukuin, emang pengen gak nulis buku yang bener-bener ada risetnya gitu?

Tsamara: Pengen banget, malah aku pengen nulis skripsi yang serius banget supaya bisa dibukukan. Cuma aku pengen buku soal politik yang ada riset atau bisa juga peristiwa-peristiwa politik yang aku alami, karena kita kan terlibat di dalam peristiwa itu jadi risetnya lebih gampang kan.

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda: Kasus politik yang lagi lo ikutin banget sekarang apa?

Tsamara: Pansus HAK Angket dan Perpu Ormas, aku rasa sekarang semua rakyat Indonesia sedang memperhatikan dua isu tersebut karena sangat krusial buat kita semua.

Kalo Pansus Hak Angket bisa kita liat sebagai salah satu upaya mencampuradukan politik  dengan hukum. Karena sebenernya gak ‘fair’ aja ketika misalnya DPR ada dugaan-dugaan bahwa ada anggotanya terlibat kasus e-KTP terus membuat hak angket, publik kan langsung bertanya-tanya, “Nih mereka kenapa membuat ini sekarang? Alasannya mau memperkuat KPK, alasannya KPK gak bener, ini bentuk pengawasan dan lain-lain.” Tapi kalo alasannya seperti itu kenapa dilakuin sekarang? Kenapa gak dari dulu-dulu.

Selain itu orang-orang yang memaksakan kasus Hak Angket ini adalah orang-orang yang gak mau berkaca dengan lembaganya sendiri. Padahal tingkat kepercayaan rakyat pada DPR itu paling rendah cuma 6,1 persen, yang kedua RUU Prolegnas banyak banget yang gak kelar, bayangin tahun 2015 ada 39 prioritas undang-undang yang selesai cuma 3. Tahun 2016 ada 50 yang selesai 9.

Kalo kita mau seriusin lagi, angket itu kan mengalami satu kepemimpinan yang gak demokratis ketika pimpinan DPR mengetuk palu, yaitu Pak Fahri Hamzah. Waktu itu banyak yang intrupsi, walkout, dan lain sebagainya. Padahal harusnya setengah anggota DPR yang ada dalam paripurna itu menyetujui hal tersebut, udah gitu gak semua fraksi mengirimkan putusannya ke angket. Jadi banyak banget yang mempertanyakan.

 

Genmuda: Sebagai anak muda apa sih arti politik buat kamu?

Tsamara: Politik itu harus terus kita amati. Karena sebagai anak muda aku juga gak mau segelintir orang mengambil keputusan politik atas diri kita, dan kita tidak sadar atas keputusan politik yang kita ambil. Jadi kita harus tau apa yang terjadi.

Sebagai contohnya ada pada konteks kasus Hak Angket, kita gak mau dong lembaga yang lahir karena amanat reformasi, –apalagi aku dan teman-teman segenerasiku (generasi millennials) merupakan produk reformasi, kita gak mau kebebasan ‘tidak hidup enak’ di era reformasi karena adanya korupsi.

Kalo gak ada KPK maka negara ini bakal jadi negara para koruptor.”

Jangan bicara soal kebebasan dan demokrasi kalo korupsi masih merajalela. Korupsi ini pun akar dari semua masalah di Indonesia. Bayangin coba, mulai dari infrastruktur, pendidikan, orang mau haji aja gak bisa karena korupsi, bahkan Al Quran aja dikorupsi. Nah, yang kayak gitu-gitu harus kita lawan dan kalo korupsi gak kita lawan kita gak bisa mewujudkan keadilan sosial. 

Makanya kita gak mau ada lembaga yang jelas-jelas memberantas korupsi kemudian dilemahkan, karena kita jelas butuh KPK, kalo gak ada KPK maka negara ini bakal jadi negara para koruptor.

 

Genmuda: Momentum apa sih yang akhirnya bikin kamu mantap terjun ke politik?

Tsamara: Aku ngerasa bahwa kalo kita ingin buat kontribusi konkret buat masyarakat, politik itu adalah salah satu cara paling masuk akal. Kalo misalkan kita menulis, kita menginspirasi banyak orang, kita beraksi maka kita mendesak pemerintah, tapi semuanya kan jangka pendek. Tapi kan kita gak cuma harus ngomel doang, melainkan harus melakukan kontribusi bahkan bertarung di dalam sana. Nah, cara itu semua adalah dengan berpolitik.

Misalnya kita jadi anggota DPR, Gubernur, atau Presiden, satu kata atau putusan kita itu udah sangat berpengaruh karena akan mengeluarkan kebijakan kongret untuk masyarakat.

Karena kalo kita lihat, banyak hal terjadi karena keputusan politik, bahkan subsidi pendidikan, subsidi kesehatan, urusan perut dan dompetnya rakyat kalo kata Pak Ahok, itu kan keputusan politik semua. Dan semua itu cuma bisa dilakukan di dalam proses pengambilan keputusan terbaik untuk masyarakat.

 

Genmuda: Ngomongin anak muda di ‘dalam’ politik, bisa lihat masih banyak peraturan yang belum sepenuhnya memihak generasi muda, komentar kamu? 

Tsamara: Ya karena anak muda sering sekali diremehkan atau mungkin usia-usia tertentu lah yang bisa terjun ke politik.

Seharusnya emang bukan dilihat dari usia seseorang itu boleh mencalonkan diri sebagai walikota atau gubernur. Anggota DPR masih okelah, karena usia minimalnya 21 tahun. Misalnya baru lulus S1, kita anggap saja itu sebagai kualifikasi pendidikan.

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Terlepas dari usia seharus ada kriteria-kriteria kualifikasi kenapa seseorang boleh mencalonkan diri di jabatan publilk, misalkan pendidikan minimal, dan lebih dijelaskan lagi seperti bebas korupsi. Kalo perlu setiap orang yang mau mencalonkan diri itu di fit and proper test aja, supaya yang terpilih adalah orang-orang terbaik.

Ya, tapi kita gak tau ya, mungkin bisa jadi perdebatan di tata negara nantinya, tapi seenggaknya harus ada kualifikasi yang baik daripada sekedar umur.

 

Genmuda: Minat anak muda Indonesia sekarang buat terjun ke dunia politik menurut kamu gimana?

Tsamara: Sebenernya banyak anak muda yang mau gabung ke politik, yang jadi masalah mereka gak mau gabung karena semata-semata karena mereka menganggap politik itu sebagai sesuatu yang jauh dari mereka dan bukan sesuatu untuk dicita-citakan. Karena selama emang ini belum ada bukti nyata ada anak muda yang berhasil ke DPR.

“Dia bisa, gue juga bisa.”

Nah, aku berharap kalo aku terjun ke politik dan kemudian bisa terpilih menjadi anggota DPR atau Gubernur 10 tahun mendatang, aku selalu berharap bisa menginspirasi anak-anak muda, supaya bukan aku aja yang di sana. Tapi banyak sekali anak muda yang kemudian percaya, “Dia bisa, gue juga bisa.”

 

Genmuda: Gak sedikit anak muda males masuk ke politik karena idealisme mereka bertolak belakang dengan partai-partai politik yang ada. Saran dari kamu?

Tsamara: Pada dasarnya partai politik harus idealis, kalo sekarang terkesan pragmatis jangan dibiarkan apalagi dianggap wajar. Partai politik harus punya idealisme dan DNA yang jelas. Nah, kalo partai politiknya idealis dan anak mudanya idealis itu baru kita akan membawa perubahan.

Percuma juga dong kita ajak anak muda yang idealis-idealis untuk terjun ke politik yang pragmatis. Ketika mereka masuk ke DPR maka mereka akan sama aja dengan politisi pada umumnya.

Justru kita mengajak mereka yang idealis bertemu wadah yang sama idealis yang gak terkontaminasi oleh orang-orang lama, terus kemudian masuk ke DPR dengan idealisme yang sama kemudian membawa semangat perubahan kepada orang-orang lama yang tidak punya semangat untuk mengubah apapun.

 

Genmuda: Selain Soekarno, siapa sosok politisi yang sangat menginspirasi Tsamara?

Tsamara: Pak Jokowi dan Pak Ahok. Keduanya adalah sosok yang berbeda. Dan akan ada seseorang yang luar biasa kalo bisa mengkombinasikan keduanya. Aku gak bisa seperti mereka, tapi bayangin kalo ada sosok Jokowi dan Ahok pada satu orang.

Pak Jokowi adalah sosok yang tenang, santun, dan beliau melakukan pendekatan halus pada orang-orang yang gak suka sama dia sehingga mendukung kebijakannya. Sedangkan Pak Ahok orang yang ceplas-ceplos dan to the point kalo ngomong, kalo ada yang gak suka “Ayo kita ribut di depan sini.” Jadi mereka bedua kan sisi yang berbeda, dan itulah yang menarik.

Dan kesamaan mereka yang buat aku kagum adalah mereka punya komitmen kerja luar biasa, dimana pikirannya gak bisa jauh dari rakyat meski caranya berbeda. Aku pun pengen jadi pejabat yang punya cara masing-masing, cuma punya satu hal di kepala mereka yaitu gimana caranya dengan jabatan ini kalo gue udah berhenti rakyat akan mengingat gue sebagai sosok yang memperjuangkan mereka.

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda: Kepo dong, apa sih yang akhirnya memantapkan kamu gabung sama partai?

Tsamara: Aku mengganggap PSI adalah partai yang memberikan perubahan. Saat ditawakan untuk jadi ketua DPP awalnya pun aku sempat ragu terlebih aku baru mendirikan LSM. Sempet juga mikir “Apa yang ngebedain PSI dengan partai politik lainnya?”

Tapi keraguan itu bisa aku langsung temuin jawabannya ketika mereka (red. PSI) menawarkan anak usai 21 tahun buat posisi penting, berarti mereka ingin sesuatu kebaruan dalam politik Indonesia. Dan kalo kita emang pengen berjuang, kita bisa berjuang dari wadah yang baru.

Perjuangan tuh jangan setengah-setengah, jangan sekedar berebut kekuasaan terus diam. Kalo mau merebut kekuasaan harus bawa perubahan dalam kekuasaan tersebut.

 

Genmuda: Tanggapan buat haters di media sosial?

Tsamara: Haters aku luar biasa dan keren abis. Mereka tuh kayak 24 hours mentengin di semua media sosial aku. Tapi buat aku mereka itu lucu dan aku bilang, “Kalian tuh orang yang kangen dan jatuh cinta aja dengan Tsamara?” Karena orang yang suka sama aku aja gak mantengin Tsamara komen atau posting apa di media sosial.

“…karena mereka lebih dari orang yang lagi kangen dan jatuh cinta.”

Kalo ada kritik haters yang membangun itu aku terima banget, karena sebagai politisi gak boleh anti kritik. Tapi kalo mereka udah mencaci, memaki, bahkan memfitnah ya kita senyumin aja. Karena gak ada kata yang pas selain senyum dan ketawa, karena mereka lebih dari orang yang lagi kangen dan jatuh cinta.

 

Genmuda: Gak takut ada acaman dari pihak-pihak yang gak suka sama kamu?

Tsamara: Itu emang udah jadi risiko politisi. Aku percaya bahwa aku bisa meminta siapapun untuk menjaga aku. Tapi kita harus sadar, kalo Allah emang gak mau kita hidup lagi, kita bisa dimatikan dengan segala kekuasaan yang kita miliki sebagai manusia.

Jadi kalo ada orang yang mau mengancam atau membunuh kita dengan segala cara, tapi ketika Allah bersama kita, maka gak ada kekuasaan dari mereka sebagai manusia untuk bisa mencelakai kita.

 

Genmuda: Perubahan seperti apa yang pengen Tsamara lakuin buat Indonesia dalam waktu dekat?

Tsamara: Kita pengen angket bubar karena kita ingin KPK diperkuat bukan dengan cara memasukan wilayah hukum dengan politik. Karena sekali KPK diangket, apakah nanti MA, MK, atau lembaga-lembaga peradilan itu mau diangket juga? Jadi semuanya gak bisa didiemin gitu aja.

 

Genmuda: Karena kamu ngefans sama Pak Jokowi, kalo keputusan beliau gak memihak rakyat bakal dibela atau dikritik?

Tsamara: Mengkritik pemerintah itu  gak salah. Dan mesti kasih kritik konstruktif, bukan kayak bilang “Pemerintah ini komunis.” Itu kan bukan kritik tapi memfitnah pemerintah. Atau seperti “Pemerintah ini Dzolim maka harus dibubarkan” itu namanya makar.

Mengkritik pemerintah itu jika kita melihat ada kebijakan yang kurang baik. Kemudian ada seseorang atau mungkin pakar apa gitu yang memberikan solusi konkret, dengan kritikan berbobot, serta memberikan solusinya, itu baru namanya kritik. Mungkin kalo Pak Jokowinya juga tau beliau juga seneng atas kritik tersebut.

 

Genmuda: Oke, sekarang bukan ngomongin politik ya. Kalo gak jadi kayak sekarang lo mau jadi apa?

Tsamara: Mungkin gue akan jadi intel atau pengacara. Itu cita-cita gue dari kecil. Tapi kalo sekarang sih liat intel kerjaannya tembak-tembakan beneran gue gak jadi deh. Hehehe…

Kalo untuk pengacara, gue rasa itu suatu pekerjaan yang menantang. Tapi setelah kuliah dan kenal politik, akhirnya tau deh kalo ada pekerjaan yang lebih menarik yaitu di bidang politik.

“Tapi setelah kuliah dan kenal politik, akhirnya tau deh kalo ada pekerjaan yang lebih menarik yaitu di bidang politik”

Genmuda: Sebelum kenal politik hobinya apa?

Tsamara: Ya, sewajarnya anak remaja pada umumnya, nonton drama seri, Jalan-jalan sama temen, selfie di Instagram. Oia, gue juga suka nonton film dan nonton bola.

 

Genmuda: Fans Real Madrid ya? Ceritain dong kenapa lo suka sama Los Blancos?

Tsamara: Suka sih dari jaman SMP, karena Real Madrid itu tim terbaik dunia. Dan cuma Madrid yang punya 12 gelar Champions League, bahkan yang terakhir back to back. Selain itu mereka punya pemain dunia terbaik dari usia muda sampe tua. Ya, emang historical banget.

 

Genmuda: Pemain favorit lo Madrid?

Tsamara: Isco dong.

 

Genmuda: Kayaknya lo keliatannya serius banget dan tegas banget kalo ngomong, pribadi Tsamara emang seperti itu?

Tsamara: Gak kok, aku orangnya santai dan supel. Gak gampang marah kok. Aku bahkan orangnya cerewet dan gampang banget bergaul sama orang baru.

 

Genmuda: Eniwei, Tsamara udah punya cowok belum sih?

Tsamara: Udah… kembali single. Hehehe…

 

Genmuda: Tipe cowok favorit lo?

Tsamara: Yang harus punya kualitas otak dan hati yang baik. Maksudnya dia bisa mengayomi dan mendorong kemajuan perempuan. Bahkan menganggap perempuan setara dengan laki-laki kalo buat aku itu adalah kualitas hati ya. Laki-laki yang percaya perempuan bisa setara mereka, maka mereka adalah laki-laki yang berjiwa besar.

 

Genmuda: Selebihnya kalo lagi gabut apa yang lo lakuin?

Tsamara: Percaya atau gak, di saat lagi kosong atau me-time, aku pasti ngeliat politik. Orang kayaknya liat politik stress, but it’s my passion. Entah mau nonton atau nulis pasti gak jauh-jauh dari politik. Dan gue ngerasa itu asik aja.

 

Genmuda: Politik lagi ya, terus musik yang lagi lo dengerin sekarang apa?

Tsamara: “All I Asked” – Adele.

 

Genmuda: Musisi tanah air kesukaan lo?

Tsamara: Glenn Fredly dan Sandhy Sondoro.

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda: Mata pelajaran yang lo suka waktu sekolah?

Tsamara: Sejarah. Simple aja, karena saat guru aku ngejelasin sejarah itu kayak dengerin dongeng. Kalo Matematika dia jelasin rumus kan harus dicatet. Tapi ketika belajar sejarah kemudian kita jadi ngedengerin “Oh, ternyata gitu ya.” Dari sejarah pun kita belajar banyak hal. ‘Jasmerah’ kalo kata Bung Karno.

 

Genmuda: Pribadi Soekarno di mata kamu apa?

Tsamara: Buat aku dia orang yang berwarna, punya visi yang sangat besar bahkan masih relevan dengan masa sekarang, dan dia mengganggap politik adalah jalan hidupnya. Sosok ini sangat luar biasa.

 

Genmuda: Perubahan seperti apa yang diharapakan oleh Tsamara buat Indonesia?

Tsamara: Pertama, aku pengen masyarakat Indonesia modern, dalam artian hilanglah orang-orang yang berpikiran intoleransi sehingga menghargai bahwa keberagaman adalah anugerah bukan ancaman. Kedua adalah menjadi negara yang menciptakan sistem yang transparan sehingga korupsi dapat kita minimalisir supaya masyarakat Indonesia dapat merasakan kesehateraan.

 

Genmuda: Mau jadi anggota DPR atau KPK?

Tsamara: Aku bukan penegah hukum, aku mau jadi anggota DPR yang Mendukung KPK.

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Setelah itu Tsamara ngelanjutin sesi Q&A di Instagram Live Genmuda.com. Well, sukses terus ya buat Tsamara Amany dan semoga ngobrol bareng minggu ini bisa jadi inspirasi buat kamu yang pengen tau soal politik, atau ikut berkonribusi kayak doi.

Penasaran siapa lagi anak muda yang bakalan kita interview? Pantengin terus Genmuda.com yah!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.