Jum'at, 17 November 2017
HiburanMusik

Mulai dari Panasnya Panggung ‘Sang Burung Api’, Hingga Kolaborasi Manis antara Payung Teduh dan Mocca di WTF 2017

©Genmuda.com/2017 TIM©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda – Asap tebal menutupi panggung utama. Lampu sorot megah, merah, terang seperti burung api yang ingin terbang. “Ti Amo” atau Aku Mencintaimu adalah lagu pembuka dari Phoenix. Lengkingan vokal Thomas Mars membuat banyak cewek histeris. Doi masih enerjik di usia ke-40, bergerak ke sana ke mari, sesekali berinteraksi.

Layar latar panggung dengan ragam gambar interaktif menambah kemeriahan aksi band yang telah berusia 20 tahun ini. Mewakili album terbaru mereka “Ti Amo” dengan nuansa musik yang cerah. Sesuai inspirasi mereka dalam menulis lagu yang berasal dari musim panas di pantai Italia.

Chemistry antara Mars bersama Deck D’Arcy (bass), Christian Mazzalai (gitar) dan Laurent Brancowitz (gitar) emang begitu erat. Persahabatan mereka sebagai teman dan seniman, udah teruji sejak masih menjadi “garage band” era 90an di kota pinggiran Versailles. Sehingga memberikan pengalaman inklusif dengan pendengar mereka.

Gak heran penonton pun larut dengan suasana. Mars pun mengajak bernyanyi bersama di lagu keempat. Disambut oleh ribuan penonton yang memenuhi Jakarta International Expo Kemayoran, “A Lisztomania. Think less but see it grow. Like a riot like a riot oh. Not easily offended. Know how to let it go. From the mess to the masses”. Salah satu lagu yang membawa mereka meraih Grammy Awards pada 2009 silam.

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

“Hello Jakarta! Terimakasih sudah hafal lirik-lirik kami,” ucap Mars menyapa para penggemarnya.

Artistik yang optimis terlihat di atas panggung, selaras dengan apa yang ingin disampaikan melalui musik. Dalam sebuah wawancara, Mars menyampaikan Phoenix ingin menciptakan pandangan dunia yang positif di tengah ketegangan Prancis selama beberapa tahun terakhir.

Phoenix menghajar gendang telinga penonton di hari kedua WTF 2017 selama satu jam sepuluh menit. 15 lagu dibawakan, yakni “Lasso,” “Entertainment,” “Lisztomania,” “J-Boy,” “Trying to be Cool (Drakkar Noir),” “Role Model,” “Girlfriend,” dan lainnya. Penonton begitu aktif. Sesekali tepuk tangan, bernyanyi, hingga berteriak seru.

Sebelum menutup penampilannya, Phoenix membawakan hit andalan mereka, 1901, yang membuat mereka merajai tangga lagu pada 2009 silam. Salah satu lagu dari mahakarya Wolfgang Amadeus Phoenix. Gak berakhir di situ, dentuman drum kembali terdengar.

©Genmuda.com/2017 TIM
Aksi Mars usai melakukan body
surfing ke penonton ©Genmuda.com/2017 TIM

“Ti Amo Di Pui” dibawakan. Dengan aksi gila dari Mars yang turun dari panggung. Ia berlari, menghampiri kerumunan para penonton. Mars melakukan body surfing. Melayani ajakan penonton untuk bersalaman dan swafoto. Phoenix pun menyampaikan salam perpisahan.

“Terima kasih Jakarta!” kata Mars di penghujung penampilannya.

Payung Teduh menunggu untuk bertemu Mocca

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Di hari ketiga, Mocca dan Payung Teduh menjadi daya tarik tersendiri di pagelaran WTF 2017. Kedua band beda satu generasi ini berkolaborasi. Sulit rasanya membayangkan suara nan swing dari Arina Epiphania dipadukan dengan suara nan folk dari Mohammad Istiqamah Djamad (Is).

“Ini pertama kalinya Mocca tampil di We The Fest, dan kami berkolaborasi bersama Payung Teduh,” kata Arina disambut tepuk tangan dan sorakan ribuan penonton.

Beberapa lagu dibawakan secara bersamaan. “I Love You Anyway,” “Butterflies in My Tummy,” “Do What You Wanna Do,” dan “Lucky Man” karya Mocca dinyanyikan bersamaan. Meski terdengar belum padu betul, tapi keduanya berhasil memikat para penonton.

Gak lama berselang, Payung Teduh pun mengajak Mocca membawakan lagu “Untuk Perempuan Yang Sedang dalam Pelukan.” Sontak alunan musiknya yang rileks membuat penonton bernyanyi bersama. Baru lah mereka membawakan satu lagu yang diciptakan secara bersama berjudul “Menunggu Untuk Bertemu.”

“Lagu ini ditulis oleh Mocca bersama Payung Teduh,” kata Arina.

Musik terdengar minimalis pada pukulan tom-tom dan snare drum. Petikan gitar diiringi terompet, dan melodi. Secara bergantian Arina dan Is bernyanyi. Lirik mengenai sepasang kekasih, di mana si pria ngebet untuk bertemu, sementara si wanita memitanya untuk bersabar.

“Masih sabar menanti, bersandar dan menghampiri…” lantun Is di atas panggung utama We The Fest. “Sabar-sabar lah dulu, beri aku sedikit waktu. Sabar-sabar lah dulu sebentar lagi kita kan’ bertemu,” saut Arina.

Kolaborasi keduanya terbilang sukses, gengs. Ribuan penonton terlihat senang dan terhibur dengan penampilan duet mereka yang pertama kalinya. Di penghujung penampilan, mereka membawakan “Menuju Senja x You” yang digabung menjadi satu lagu.

Sayang, penampilan dua band ini selesai lebih cepat, sebelum penonton merasakan klimaksnya. (sds)

Comments

comments