Minggu, 16 Desember 2018

Genmuda – Indonesia kebagian nonton duluan film “Mortal Engines” mulai hari ini, Rabu (5/12). Mengambil latar kehidupan manusia di masa depan film fantasi ilmiah ini siap kasih kamu sentuhan epik grand battle ala Lord of The Rings-Mad Max tapi lebih futuristik.

Diadaptasi dari novel karya Philip Reeve dengan judul serupa, film ini digarap oleh sutradara film “The Hobbit” dan “Lord of The Rings”, Christian Rivers. Penasaran kayak gimana filmnya? Langsung aja kamu simak review tengah minggu Genmuda.com kali ini!

Peradaban manusia di masa depan

©Universal Pictures/2018
©Universal Pictures/2018

“Mortal Engines” dibuka oleh kehidupan peradaban manusia abad ke-21 yang telah hancur. Setelah 3.000 tahun kemudian umat manusia tinggal di kota-kota besar ‘berjalan’. Kota besar ‘London’ digerakan oleh mesin tersebut dan memangsa kota-kota kecil yang lemah untuk merampas sumber daya energi dari masa lalu. Aksi kejar-kejaran pun menjadi tontonan seru pada 25 menit pertama.

Armada London dipimpin oleh Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) berusaha memburu satu kota kecil sampai akhirnya kota itu berhasil ditelan oleh London untuk menyerah secara paksa. Thaddeus punya seorang anak perempuan bernama Katherine Valentine (Leila George) yang berteman dengan kaum kelas bawah Tom Natsworth (Robert Sheehan). Kedua sedang menguak asal-usul “Perang 60 detik” di masa lalu yang memusnakan umat manusia untuk mengubah kehidupan lebih baik di London.

Gak lama setelahnya tiba-tiba Thaddeus diserang oleh Hester Shaw (Hera Hilmar), penduduk kota yang baru aja ditelan oleh London. Hester berusaha kabur namun dikejar oleh Tom. Saat keadaan terpojok, cewek misterius ini membocorkan informasi kepada Tom kalo dirinya sengaja ingin membunuh Thaddeus demi membalaskan dendam kematian ibunya.

Di tengah perasaan bersalah dan bingung, Tom dengan polosnya malah cerita kepada Thaddeus kalo Hester ingin membunuhnya karena dendam di masa lalu. Karena rahasianya mulai terbongkar, Thaddeus akhirnya membuang Tom ke lubang pembuangan bersama Hester.

Terus, apa ya ambisi yang sedang dijalanin sama Thaddeus? Apakah Hester bisa membalaskan dendam sang ibu? Dan apakah Tom berhasil kasih perubahan bagi masa depan London?

Efek mewah dengan cerita sederhana

©Universal Pictures/2018
©Universal Pictures/2018

Filmnya terbilang ‘mantul’ dalam segi efek visual dan scoring. Gak heran sih, karena produksi “Mortal Engines” digarap sama Weta Digital Team yang sukses ngasih sentuhan efek buat film “Lord of The Rings”, “King Kong”, sampe “Godzilla”. Mata kamu kayak dimanjain sepanjang film berlangsung.

Cerita film ini bisa aja lebih bagus kalo jalan ceritanya dibikin padat dan gak lebay. Klimaks bagian terlebay adalah saat Thaddeus harus repot-repot menenggelamkan satu penjara cuma buat ngeluarin satu robot tahanan. Plis lah, biarpun ini film fantasi buat usia 13 tahun ke atas tapi gak gitu juga kan?

Walau terkesan cari aman, Rivers seenggaknya berhasil menawarkan tema post apocalypse dengan segala teknologi dalam film ini gak bikin otak kamu ngejelimet. Kalo kamu udah pernah baca bukunya mungkin feel film ini bisa lebih dapet.

Kesimpulannya

©Universal Pictures/2018
©Universal Pictures/2018

“Mortal Engines” bakalan cocok buat kamu yang suka sama film fiksi ilmiah fantasi dengan tema post apocalypse. Namun secara pribadi, penulis ngerasa kalo konfliknya masih terbilang biasa dan gampang ditebak.

Untungnya ending film ini gak bikin penonton ngerasa ‘kentang’. Sebelumnya Peter Jackson selaku produser emang berencana untuk menggarap keempat seri Mortal Engines ke layar lebar. Well, sebagai debutan rasanya film ini masih tetep seru dan wajib buat Kawan Muda tonton di bulan Desember 2018. Penasaran? Tonton dulu aja trailer di bawah!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.