Rabu, 14 November 2018

Genmuda – Webseries Morgan Oey “Call Me Ai” bareng Isyana Sarasvati selesai rilis tiga episode di Channel YouTube OPPO atas kerjasama dengan Viu. Dapat respon positif, para penggemar menagih episode keempat padahal seasonnya sudah selesai.

Namun demikian, misi aktor yang namanya dibesarkan pada era ketergabungannya dengan boyband SM*SH itu di dunia hiburan tanah air sama sekali belum surut. Cowok asli Singkawang, Kalimantan Barat itu masih punya banyak project seru.

Salah satunya, promosiin OPPO F5 Dashing Blue pada peluncurannya di The Anvaya Beach Resort Bali, Kamis (8/2). Di sela kesibukannya, Genmuda.com sempet ngobrol bareng doi menanyakan project-project selanjutnya. Dengan baik hatinya, doi kasih bocoran. Simak di bawah ini, skoy!

Genmuda: Halo, Morgan! Gimana sih pengalaman bikin web series unik “Call Me Ai?”

Morgan: Seru banget. Selama proses itu, aku belajar banyak dari bermacam tantangan yang harus aku hadapi. Meski syuting dengan Isyana, aku diharapkan juga berakting sendiri dan hanya berbincang dengan ponsel.

Soalnya, “Call Me Ai” bercerita soal hubungan seru antara cowok dan Artificial Intelligence pada ponselnya. Aku memerankan sosok Abe. Dia itu cowok hobi fotografi yang idealis banget. Sementara itu, Isyan memerankan Ai, yaitu sosok artificial intelligencenya.

Dalam perkembangannya, sudut pandang Abe yang terututup oleh idealismenya terbuka secara perlahan-lahan karena berbagai saran yang diberikan Ai. Webseriesnya lucu dan seru kok untuk ditonton.

 

Genmuda: Kalo menurut kamu, gimana respon penontonnya?

Morgan: Responnya positif banget. Aku lihat di bermacam kolom komentar bahwa mereka terus menanti episode keempat meski berkali-kali dibilangi bahwa webseries itu merupakan project tiga episode.

 

Genmuda: Komentar kamu terhadap reaksi fans gimana?

Morgan: Aku bersyukur banget karena penantian mereka berarti keberhasilan bagi project yang juga jadi ajang promosi kemampuan artificial intelligence OPPO F5 Dashing Blue itu. Artinya, kan, sebagai sebuah webseries, “Call Me Ai” sudah keren banget.

©Genmuda.com/2018 TIM
©Genmuda.com/2018 TIM

Genmuda: Apakah nanti akan ada season kedua?

Morgan: Wah, kalau itu tergantung pihak OPPO yang punya projectnya. Namun demikian, aku selalu membuka diri untuk gabung project itu sekali lagi.

 

Genmuda: Kalo gitu, apa project selanjutnya?

Morgan: Hmm, aku sebenarnya juga sedang terlibat beberapa project pembuatan film. Ada “Arini” yang merupakan remake film “Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat.”

Aku berperan sebagai Nick pada film itu. Dia tuh pria muda yang jatuh cinta sama perempuan berusia jauh di atasnya, Arini. Film zaman dulunya, menurut aku, termasuk legendaris. Sosok Nick diperankan dengan apik sama Rano Karno sementara Arini yang 10 tahun lebih tua diperankan Widya Wati.

Ismail Basbeth, sutradara remake film “Arini” tetep akan mengusung tema drama. Jadi, akan ada banyak tantangan, terutama soal olah emosi, yang harus aku lalui. Aku bersemangat sekali sama film yang rencananya rilis April 2018 itu.

 

Genmuda: Lalu, ada project balik ke dunia musik?

Morgan: Soal itu, aku sudah beberapa kali berjanji akan kembali ke dunia musik sejak tahun-tahun lalu dan aku ingin banget menunaikan janji itu tahun ini.

Sebagai langkah pertamanya, aku berencana bikin single sebagai soundtrack film “Arini.”

 

Genmuda: Bocoran sedikit dong, singlenya kayak apa tuh?

Morgan: Sorry, aku belum bisa deskripsiin banyak, tapi aku berani bilang bahwa lagu itu gak akan sama seperti masa-masa aku bergabung dalam boyband. Kali ini, aku berusaha membuat lagu yang “lebih Morgan.” Atau, “Morgan banget.”

 

Genmuda: Jadi, lagu macam apa yang “Morgan banget.”

Morgan: Tunggu saja April 2018 di film “Arini.” Hehehe.

©Genmuda.com/2018 TIM
©Genmuda.com/2018 TIM

Genmuda: Rencannya single soundtrack “Arini” akan dijadikan album indie?

Morgan: Kalau soal itu, masih rahasia. Hehehe. Aku cuma bisa bilang, aku akan kembali ke dunia musik tahun ini.

 

Genmuda: Kalo ditawari kesempatan kolaborasi musik bareng Isyana, gimana perasaan kamu?

Morgan: Apabila kesempatannya memang datang, aku sangat mau. Itu akan jadi tantangan lain buat aku, apalagi Isyana jenius banget di dunia musik.

 

Genmuda: Kalo suruh memilih, lebih ingin mendalami dunia musik atau dunia film?

Morgan: Menjawab pertanyaan itu sulit. Aku gak bisa milih karena keduanya aku suka banget. Jelas aku gak bisa tinggalkan musik karena itu passionku sejak gabung ke boyband.

Tapi, akupun jatuh cinta pada dunia akting karena di situ banyak sekali hal yang aku pelajari.

 

Genmuda: Hal yang dipejari misalnya seperti apa?

Morgan: Hal apapun yang dibutuhkan untuk mendalami dan menjadi karakter yang diperankan, bukan sekedar memerankannya. Contohnya, di film “Moon Cake Story” (2017).

Aku sama sekali gak punya kerabat penderita Alzheimer apalagi memiliki riwayat menderita penyakit itu, tapi aku harus memerankan karakter penderitanya, David.

Untuk memahami dan mendalami karakternya, aku harus paham dulu gelagat dan kondisi mental penderita alzheimer. Jadi, aku sering berkunjung dan berbincang bersama para penderitanya di salah satu rukun (semacam panti rehabilitasi, red) alzheimer.

Terus, aku juga terlibat project film “Cooking Camp” yang rencananya rilis Juni 2018. Karena di film keluarga itu aku harus berperan sebagai chef, maka aku diberi pelatihan memasak supaya bisa bergerak dan berpikir layaknya chef beneran.

 

Genmuda: Sejak kapan sih jatuh cinta sama dunia akting?

Morgan: Sejujurnya, sejak SM*SH ditawari main sinetron “Cinta Cenat-Cenut.” Mulai dari situ, aku jatuh cinta pada proses kreatif mendalami karakter pada tahap pre-produksi. Menurut aku, tahap itu penting banget.

 

Genmuda: Ada gak sih genre film atau karakter yang Morgan banget?

Morgan: Aku selalu berprinsip begini. Tiap aktor sebaiknya tidak memilih-milih genre apalagi karakter untuk diperankan. Karenanya, aku pasti terima tawaran main film apapun apabila sreg dengan naskah dan sutradaranya.

 

Genmuda: Sutradaranya harus yang seperti apa?

Morgan: Aku selalu berharap bisa kerja bareng sutradara visioner, dalam arti gini. Dia mampu membayangkan hasil akhir filmnya sebelum memulai proses pembuatan film. Istilahnya, film itu udah jadi dalam kepalanya sebelum syuting.

Itu sangat membantu kelangsungan proses keseluruhannya, loh. Dan untungnya, aku bersyukur banget sutradara yang menggarap film-filmku visioner dan memiliki ciri khas masing-masing pada filmnya.

©Genmuda.com/2018 TIM
©Genmuda.com/2018 TIM

Genmuda: Ngomong-ngomong soal visioner, ada dua bintang Hollywood jago mendalami karakter yang juga sevisioner itu. So, kamu lebih berharap jadi Heath Ledger atau Leonardo DiCaprio?

Morgan: Ah, gak bisa milih! Aku suka keduanya. Membandingkan peak performance mereka, Heath di film “The Dark Knight” (2008) dan Leo di “The Revenant” (2015), keduanya jago banget.

Aku ingin bisa berperan sedalam Heath yang jadi Joker atau Leo sebagai Hugh Glass.

 

Genmuda: Biar punya banyak talent kayak lo, apa tipsnya?

Morgan: Jangan pernah takut mencoba pengalaman baru dan terus mengasah talent yang sudah ada. Dan, ingat peribahasa ini. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Itu bukan hanya peribahasa yang harus dihapal sejak SD, melainkan prinsip yang aku jalani. Orang awam mengira para artis ternama hidup senang penuh glamor.

Jangan mau senang-senangnya aja. Camkan itu, Millennials!”

Padahal, banyak tantangan yang harus mereka hadapi untuk ciptakan karya terbaik masing-masing.

Jadi, ingat, ya. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Jangan mau senang-senangnya aja. Camkan itu, Millennials! Hehehe.

 

Genmuda: Apasih cita-cita sekarang yang pengen banget diraih?

Morgan: Karena aku suka nyanyi dan akting, aku ingin banget main karya musikal. Kalau kesempatannya datang dalam project layar lebar, itu keren.

Kalau datangnya dalam kesempatan berteater musikal, itu lebih keren lagi karena menjadi tantangan baru dalam kembangkan talenta aku.

 

Genmuda: Sekarang, pertanyaan iseng. Kayak apa sih tipe cewek kesukaan kamu?

Morgan: Dulu, aku pasti bilang dia harus mengerti pekerjaan aku. Namun, sekarang aku bilang dia harus paham kepribadian aku. Soalnya, perdebatan gak penting dalam hubungan kan cuma bisa selesai kalau ada rasa saling mengerti.

 

Genmuda: Memang, kepribadian kamu kayak apa kalo dideskripsiin dalam tiga kata?

Morgan: Perfeksionis, baik, dan lucu. Hehehehe.

 

Setelah pertanyaan itu, Morgan kembali bercerita soal betapa besar minatnya di dunia akting dan musik. Berdasarkan targetnya tahun ini, sih, Kawan Muda boleh berharap kalo 2018 adalah tahunnya Morgan. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.