Minggu, 18 Agustus 2019

Genmuda – Pengalaman Liam O’Donnel menggarap efek visual “Aliens vs Predator: Requiem” (2007), “Iron Man 2” (2010), ditambah pengalaman nulis naskah “Skyline” (2010), tertuang di “Beyond Skyline.” Sekuel yang ia tulis dan sutradarai itu berisi kreativitas liarnya.

Meski terpaut tujuh tahun, dua film “Skyline Universe” berlangsung dalam latar waktu bersamaan. Lebih tepatnya, saat kedatangan alien penghipnotis yang punya misi memangsa otak manusia demi mereproduksi alien baru.

Namun, ada kejutan lain di dalam filmnya. Liam dan tim produksinya gabungin unsur drama ala film keluarga, mikir ala film fiksi ilmiah, ngangetin ala film horor, sadis ala film slasher, dan luwes ala koreografi beladiri tradisional.

Dimulai dengan berita buruk

via Istimewa
Ki-ka: Mark lindungi Trent, anaknya, dari kejaran alien. (Sumber: Istimewa)

Rangkaian adegan pertama dimulai di kantor polisi, nyeritain situasi yang gak mengenakkan bagi Mark (Frank Grillo), seorang polisi senior yang baru aja kehilangan istri. Anaknya, Trent (Jonny Weston) ditangkap karena ketauan berantem di depan publik.

Untunglah ada Garcia (Jacob Vargas) yang membela sehingga anak itu cuma ditahan di ruang interogasi tanpa harus masuk penjara. Mark dan Trent yang hidupnya kini sedang susah akhirnya pulang naik kereta bawah tanah, salah satu transportasi murah di Los Angeles.

Dalam perjalanan pulang, kereta mengalami gangguan akibat gempa dadakan. Penumpang yang panik akhirnya turun lalu menyusuri rel bawah tanah hingga tiba ke area evakuasi darurat. Masinisnya, Audrey (Bojana Novakovic) membimbing rombongan.

via Istimewa
Mark berusaha kabur dari pesawat alien. (Sumber: Istimewa)

Dalam perjalanan, mereka bertemu Garcia yang juga lagi berlindung di kereta bawah tanah. Belum sampe tiba di tujuan akhir, alien tiba-tiba menyerang hingga akhirnya mereka semua terculik lalu terdampar di Laos.

Di situlah mereka bertemu para jagoan beladiri, yaitu Sua (Iko Uwais) sang preman penjaga pabrik narkoba dan “The Chief” (Yayan Ruhian) selaku kepala polisi Laos. Rombongan beranggotakan orang-orang unik itu pun mencari cara untuk melawan invasi alien. Banyak pengorbanan harus dilakukan.

Lebih baik nonton film pertamanya juga

via Istimewa
Mark lagi berlindung dari kejaran alien. (Sumber: Istimewa)

Secara keseluruhan film yang terbilang unik ini bisa dinikmati tanpa harus nonton prekuelnya. Namun, akan lebih gampang dipahami setelah menonton film yang tahun 2010 karena prekuel itu berisi detil plot penting di “Beyond Skyline.”

Kalo dibandingin antara kedua film, sekuel ini lebih menarik. Keliaran Liam O’Donnel beserta tim CGI dan efek suara mengakibatkan adegan yang melibatkan alien selalu menegangkan, sadis, dan pastinya ngagetin.

Namun, jangan bandingin film unik ini sama franchise film alien lain macam, “Predator” (1987-2010), “Alien” (1979-2017), apalagi “Star Wars” (1977-2017) dan “Star Trek” (1979-2016). Karena, franchise itu gak ada unsur bela dirinya.

Iko dan Yayan kayak jadi diri sendiri

via Istimewa
Sua versus alien. (Sumber: Istimewa)

Meski nampil sebagai warga asli Laos, pemeran Sua dan “The Chief” bertarung dengan gerakan yang keliatan banget Silatnya. Tangkisan, permainan tangan, dan kuda-kuda yang terlihat meliuk-liuk jauh beda dari Muay Lao, beladiri tradisional Laos yang cenderung mirip Kick Boxing.

Dalam berbagai adegan laga, ditampilin kalo jurus-jurus beladiri mereka berdua sangat mematikan karena bisa menghabisi alien dari jarak dekat menggunakan benda tajam macam golok dan pisau. Sementara itu, Mark dan rombongannya harus berjuang mati-matian dengan senapan.

Di trailer, adegan Sua membantai alien pake katar luar angkasa terlihat sangat mengagumkan. Tapi, ketahuilah: lebih keren adegan saat doi berantem dengan pisau komando di tangan kiri dan kanannya.

Berbagai keunikan itu berpengaruh positif-negatif bagi film. Penonton yang terbiasa menikmati film alien gaya lama, mungkin risih dengan kombinasi ala Liam O’Donnel. Tapi, penonton penyuka beladiri, pasti seneng ngeliat alien dihajar dengan senjata apa adanya.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.