Minggu, 22 Oktober 2017
HiburanNgulikFilm

Ketika ‘Mereka yang Tak Terlihat’ Menceritakan Pengalamannya Lewat Film

via Istimewa(Sumber: Istimewa)

Genmuda – Film “Mereka yang Tak Terlihat” (MYTT) nunjukin kalo garis batas antara film drama dan horor cuma ada secara tertulis. Nyatanya, beberapa orang punya kisah dramatis tentang cinta dan cita-cita, tapi berakhir tragis sekaligus mencekam.

Cerita-cerita seperti itu yang berusaha ditampilin sutradara sekaligus penulis naskah “MYTT,” Billy Christian. Keseluruhan ceritanya dibangun berdasarkan wawancara dia dengan anak-anak indigo dan makhluk halus yang merasuki salah satu dari mereka.

Dari sekian banyak kisah, terpilih beberapa yang mengandung nilai kekeluargaan. Cerita yang terlalu sadis karena mengandung pembunuhan dan pemerkosaan dibiarkan. Dan, seperti ini lah kisah mereka-mereka yang tak terlihat.

Menceritakan cerita orang lain

via Istimewa
Saras (kanan) dengan hantu-hantu yang ingin bercerita dengannya. (Sumber: Istimewa)

Secara real, filmnya dimulai sama Saras dewasa (Estelle Linden) nyeritain pengalaman keindigoannya sejak usia sekolah. Dari cerita itu, adegan berganti ke Saras masa remaja (Sharon Sahertian) yang harus membiasakan diri melihat makhluk dunia lain di sekelilingnya.

Sejak itu pula, Saras harus rela diikuti hantu-hantu yang ingin bercerita tentang pengalaman pahit semasa hidup di dunia. Kebanyakan masalah itu sama sekali belum selesai dan Saras dimintai tolong untuk menyelesaikannya.

Cewek baik itu sepakat bantu paling gak dua arwah. Saras remaja menyelesaikan satu kasus pembunuhan terselubung yang selama ini mengganggu sebuah keluarga. Sementara itu, Saras dewasa menyelesaikan kasus bullying yang secara tak langsung menewaskan seseorang.

Cerita Bullying itu lah yang terasa jadi highlights keseluruhan film karena paling terasa emosinya. Ceritanya tentang Dinda (Frislly Herlind) yang dibully kawan-kawan satu sekolah hingga akhirnya terjadi kecelakaan yang menewaskannya.

Namun demikian, Saras justru kesulitan menyelesaikan masalahnya dari kecil hingga dewasa. Yaitu, meyakinkan Ibu (Sophia Latjuba) bahwa dia adalah anak indigo dan kejadian yang menimpanya nyata. Hanya adiknya, Laras (Bianca Hello) dan Tante (Roweina Sahertian) yang paham.

Drama yang puitis

via Istimewa
Ibu (Sophia Latjuba) lagi curhat ke si Tante (Roweina Sahertian). (Sumber: Istimewa)

Kisah yang menimpa para hantu dan kisah yang dialami Saras terasa sangat real. Permasalahannya dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan kemungkinan besar pernah kamu alami sendiri. Justru itu yang bikin suasana dramatis makin terasa.

Dialog karakter saat adegan-adegan drama itu tersampaikan dengan Bahasa Indonesia yang baku dan puitis. Penikmat film kesastra-sastraan akan sangat menyukainya, tapi dialog itu akan terasa kaku bagi penikmat film easy going.

Genmuda.com sih ngerasa fine-fine banget sama dialog-dialog puitis di dalam film. Cuma, dialog macam itu belum pernah aja ditemui di kehidupan nyata, kecuali lagi nyanyi lagu Dewa 19 masa Ari Lasso, Sheila On 7, atau Noah waktu namanya masih Peterpan.

Tanpa adegan horor pun jadi

Ini pendapat pribadi penulisnya aja. Kamu boleh percaya boleh enggak. Film ini tetep akan berjalan dengan baik meski tanpa unsur ngagetin film horor. Serius! Soalnya, cerita dramatisnya udah dapet banget.

Kamu yang menikmati drama Korea dan film drama fantasi pasti akan betah nonton film ini. Penonton anime “A Silent Voice” (2017) akan ngerasa familiar dengan rangkaian adegan bullying di MYTT.

Sementara penonton film “Big Fish” (2003) akan deja vu sama endingnya. Meskipun demikian, Billy Christian mampu mengemas segala kemiripan itu dengan style yang MYTT. Bukan plagiat sama sekali, sob.

Saran terakhir dari Genmuda.com, kamu yang bermental mellow harus bawa tissue atau sapu tangan saat nonton. Kamu yang nonton sama cowok kamu harus siap bersabar atas kemupengan doi karena wajah manis Estelle Linden akan sering di-zoom.

Sementara itu, kamu yang detil mungkin akan bingung sama beberapa misteri yang tak terceritakan di film. Lalu, kamu yang penakut harus ajak temen biar engga serem sendirian, karena di bangku kosong sebelah kamu, mereka yang tak terlihat pun ikut nonton. Hihihihi.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.