Rabu, 19 Februari 2020

Genmuda – Hiks banget. Sudirman Cup 2017 malah dimenangin Korea Selatan, sementara squad Indonesia tersungkur sejak fase grup. Bahkan pebulutangkis ranking dunia Tiongkok yang biasa menangin Sudirman Cup bertekuk lutut sama permainan pebulutangkis muda Korsel.

Jangan salahin Indonesia sepenuhnya karena skuad merah putih udah ngebawa pemain muda dan menang 3-2 melawan tim Denmark, tim yang diunggulin di Sudirman Cup. Hanya aja, Indonesia sempat dibantai tim India 1-4 sebelumnya.

Well, sepanjang sejarah, Indonesia emang baru pertama kali 1 kali juarai Sudirman Cup, yaitu tahun 1989. Tiongkok udah menang 10 kali dan Korsel 4 kali. Tapi, prestasi Indonesia sekarang juga melempem di turnamen lain.

via (bwfsudirmancup.com)
Squad Korea Selatan mengangkat trofi Sudirman Cup 2017. (Sumber: bwfsudirmancup.com).

Misalnya di perebutan Piala Thomas. Tahun 1958-2002, Indonesia menangin 13 Piala Thomas, tapi setelahnya tim putra malah puasa piala sampai sekarang. Sedangkan tim putri Indonesia tahun 1990an menangin 2 Piala Uber, lalu setelahnya gak ada piala lagi yang dibawa pulang ke tanah air.

Lalu, apa penyebabnya squad bulutangkis Indonesia gak bisa bergelimang piala dan medali emas bulutangkis seperti tahun 1980-1990an dulu? Di bawah ini adalah beberapa penyebabnya menurut para senior badminton Tanah Air.

1. Regenerasinya lambat

via blibli.com
Tangis bahagia Susi Susanti juarai PON. (Sumber: Istimewa).

Susi Susanti, selaku Kepala Bidang Prestasi dan Pemain PB PBSI bilang regenerasi Indonesia emang terhitung lambat. Kata pebulutangkis senior yang dijuluki “Ratu Superseries” itu, minat anak muda sekarang terhadap badminton emang banyak tapi gak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

2. Berharap instan

©Genmuda.com/2016 TIM.
Susi Susanti ketika jadi pengurus PBSI. ©Genmuda.com/2016 TIM.

Dalam salah satu wawancara, Susi Susanti juga pernah bilang kalo atlet Indonesia rada-rada kurang persiapan. “Kalo mau juara SEA Games, Asian Games, ataupun Olimpiade, gak mungkin modalnya hanya tiga bulan latihan lalu simsalabim jadi juara,” cerita pebulutangkis wanita yang masuk Badminton Hall of Fame 2004 itu.

3. Pemainnya cepat puas

via pbdjarum.org
Ekspresi smash Liem Swie King muda yang ikonik. (Sumber: pbdjarum.org)

Liem Swie King, juara All England Open dan SEA Games 1981 punya alesan lain. Kata beliau, atlet muda jaman sekarang terlalu cepat puas dengan hasil yang diraih. Karena itu, penting banget menatar calon-calon pebulutangkis sejak dini banget.

4. Banyak distraksi

via bertagol88.com
Tan Joe Hok muda pamer piala. (Sumber: bertagol88.com).

Kebanyakan mal dan tempat nongkrong yang berdiri di Indonesia juga jadi salah satu faktor yang memecah konsentrasi atlet Indonesia, menurut Tan Joe Hok, orang Indonesia pertama yang pada 1959 menangin All England. Karena terdistraksi itu, latihan atlet muda Indonesia jadi gak maksimal.

5. Teknologi kurang dimanfaatin

via baranews.co
Tan Joe Hok sekarang jadi legenda. (Sumber: baranews.co).

Tan Joe Hok juga menduga kalo teknologi canggih yang dipegang tiap atlet muda gak dimanfaatin dengan baik. “Seharusnya, teknologi yang ada sekarang makin memudahkan atlet mengetahui kekuatan lawan,” kata Beliau.

Nah kira-kira, seperti itulah beberapa penyebab tim badminton Indonesia melempem di kancah Internasional. Kalo kamu gak setuju, coba dong gabung ke pelatnas PBSI dan tunjukin taring Indonesia. Jangan andalkan kebolehannya pasangan Marcus/Kevin doang, dong. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.