Selasa, 18 Juni 2019

Genmuda – Di daerah beriklim tropis sepanas Indonesia, kecil kemungkinannya salju turun dari langit. Kemungkinannya lebih besar bagi bola-bola es untuk turun. Es loh, gaes. Cukup sakit kalo kena kepala dan bisa bikin genteng rumah rusak.

Rabu (19/4) kemarin, fenomena yang dalam istilah Inggris bernama hailstorm atau hail itu terjadi di Bandung, Jawa Barat. Kata warga sekitar, suasananya seperti ada yang melempari atap dengan batu ketika bola es seukuran kacang atom turun dari langit.

Untung warganya pada asik. Mereka engga kelamaan panik dan kemudian langsung enjoy menikmati fenomena itu. Warga berfoto di jalanan yang ditutupi bola es sementara anak-anak main bola di atas lapangan es.

Karena iklim di Indonesia relatif lebih panas daripada di Eropa pada musim dingin, semua es itu akhirnya mencair dan semua kembali normal. Fenomena hailstorm sebenernya juga langganan terjadi di daerah tropis. Coba lihat penjelasannya di bawah ini.

1. Kenapa terjadi di musim kemarau?

via youtube.com
Ini awan cumulonimbus. (Sumber: YouTube.com)

Sebenernya, terjadinya engga di musim kemarau panjang. Menurut laporan teknis tentara Amerika Serikat, 1966, hujan es terjadi di pergantian musim (pancaroba), ketika matahari lagi panas-panasnya tapi udara cukup lembap.

Kondisi yang galau seperti itu bikin titik-titik air yang menguap dari darat gampang jadi awan hitam (cumulonimbus) yang membumbung tinggi. Lama-lama, lapisan awan paling atas masuk ke lapisan langit yang suhunya rendah cenderung beku. Abis itu, butiran embun otomatis beku jadi es secara bertahap.

2. Ukuran bola esnya bisa seberapa besar sih?

via discovermagazine.com
(Sumber: discovermagazine.com)

Hasil penelitian di buku Tropical Circulation Systems and Monsoons sih bilang kalo diameter esnya antara 5 milimeter hingga 15 centimeter. Kenapa es yang turun dari langit ukurannya engga ada yang kecil? Karena, es yang ukurannya kecil keburu mencair jadi hujan biasa ketika turun dari langit.

3. Kenapa harus disertai badai petir juga?

via positively.com
(Sumber: positively.com)

Hailstorm biasa juga “diramaikan” badai petir. Soalnya, butiran embun di awan selalu bergesekan bisa jadi karena angin atau naik-turun dengan sendirinya karena ada perbedaan udara. Karena ion-ion di awan saling bergesekan, terciptalah energi listrik. Makin banyak titik udaranya, makin banyak ion yang pada akhirnya bikin awan itu berubah jadi awan petir.

4. Selain di Indonesia, daerah tropis mana lagi yang suka hailstorm?

via Istimewa
Hujan es di Arab Saudi. (Sumber: Istimewa)

Fenomena hailstorm terjadi merata di hampir semua daerah torpis. Honduras, Kosta Rika, Venezuela, Ekuador, Peru, Paraguay, dan Brazil adalah daerah Amerika Latin yang langganan terjadi hailstorm. Di Afrika, kejadiannya muncul di Angola, Ghana, Kamerun, Ethiopia, Sudan. Di Asia, Timur Tengah, India-Pakistan, dan Asia Tenggara tuh langganan hailstorm. Itu menurut penelitian di jurnal AMS.

5. Apakah badai es menandakan fenomena lain?

via porosjakarta.com
Menandakan curah hujan lagi tinggi. (Sumber: porosjakarta.com)

Ya, jelas. Menurut laporan teknis tentara AS yang Genmuda.com sebutin sebelumnya, hujan es merupakan pertanda kalo musim hujan berikutnya bakalan lebih basah dari rata-rata. Mereka ngomong gitu karena meneliti di musim pancaroba dari kemarau ke musim hujan.

Nah, berhubung hailstorm di Bandung terjadi saat peralihan musim hujan ke kemarau, bisa dibilang juga kalo curah hujan sebelumnya cukup tinggi daripada rata-rata. Dan, siap-siap aja kalo kemarau mendatang bakal banyak basahnya.

Gimana? Fakta-fakta di atas udah cukup ngejelasin fenomena hujan es kan? Meski kamu udah engga parno mengira hujan es sebagai tanda akhir jaman mungkin juga iya, kamu tetep harus waspada. Berlindunglah di dalam gedung saat hailstorm terjadi. Soalnya, kepentok bola es yang turun dengan kecepatan tinggi tuh sakit, loh. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.