Jum'at, 22 Maret 2019

Genmuda – Kurangi distraksi (pengalihan perhatian), perluas pencarian vakansi (tempat tinggal dijual). Cuma itu kok cara supaya milenial usia 23-37 tahun punya rumah sendiri tanpa pusing cari pinjaman sana-sini.

Prinsip itu diungkapin Country General Manager Rumah123.com Indonesia, Ignatius Untung, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (20/12). Acaranya juga dihadiri CEO REA Group, Tracy Fellows.

Dalam kegiatan itu, pihak Rumah123 presentasiin sejumlah data terkait karakteristik generasi milenial terhadap pembelian properti, seperti rumah dan apartemen. Disimpulin, anak muda lebih berminat jalan-jalan dan beli gadget/komputer daripada beli properti.

Kurangi distraksi

via: Giphy

Menurut Untung, gaya hidup remaja hanyalah distraksi untuk membeli properti. Dengan mengurangi gonta-ganti gadget yang gak perlu dan menunda jalan-jalan beberapa tahun, millennial masih bisa properti.

“Gaya hidup akan kembali seperti semula pada tahun keempat proses pembayaran tempat tinggal,” kata Untung. Hal itu sangat mungkin setelah memperhitungkan kenaikan gaji tahunan.

Cari kerja yang gajinya naik minimal 10 persen per tahun

 

©Genmuda.com/2017 TIM
Ignatius Untung diwawancara rekan-rekan media di Jakarta, Rabu (20/12). ©Genmuda.com/2017 TIM

Berdasarkan kalkulasi tim Rumah123.com, anak muda perlu kerjaan yang gajinya naik 10 persen tiap tahun dan 25 persen tiap promosi tiga tahunan, untuk mencicil tempat tinggal tanpa ngurangin gaya hidup di tahun keempat.

Cari properti seharga 46 kali gaji

via: Giphy

Realistisnya, rumah atau apartemen seharga 46 kali gaji adalah properti ideal. Kalo pendapatan bulanan sebesar 3,5 juta rupiah, maka properti yang bisa dibeli adalah kisaran 160 jutaan rupiah.

Makin banyak gajinya, jelas makin besar harga properti yang bisa dicicil. Berdasarkan perhitungan Untung, properti seharga 46 kali gaji bulanan paling pas dicicil sesuai ketentuan kredit selama 20 tahun.

Gak mesti di pusat kota, keleus!

via giphy.com

Untung memaklumi keinginan milenial tinggal di area yang ada kehidupan dan mudah akses transportasinya. Hanya saja, biaya properti di tempat “jadi” seperti itu terbilang tinggi.

Dia menyaranin untuk menggeser area pencarian properti menjauh dari pusat kota. “Makin jauh dari pusat kota, makin turun harga penawarannya,” kata Untung.

Rumah di area “matahari terbit”

via: giphy

Bukan berarti Kawan Muda myari rumah di Jepang, loh. Area “matahari terbit” berarti area baru yang mulai tumbuh menjadi calon pusat kota baru.

“Area yang sekarang ramai penduduk awalnya juga merupakan daerah jarang hunian. Malah, ada yang mirip tempat jin buang anak,” kata Untung.

Sialnya, gak semua hunian baru dijamin berkembang jadi pusat kota di masa depan. Ada juga yang selamanya jadi tempat sepi manusia karena huniannya dibeli bukan sama pencari tempat tinggal, tapi sama investor.

Mulai sedini mungkin

©Genmuda.com/2017 TIM
Makin ditunda, makin kecil properti yang bisa diperoleh. ©Genmuda.com/2017 TIM

Untuk yakin, milenial yang punya kerjaan tetap dan udah nikmatin gaji bulanan pasti bisa beli properti sendiri. “Hitung-hitungannya kan sudah ada. Jangan takut, apa lagi ditunda,” ujarnya.

Makin ditunda, makin kecil kualitas hunian yang bisa diperoleh. Kata datanya, milenial yang nunda beli properti hingga tahun berikutnya cuma bisa peroleh properti dengan kualitas 4 sampai 8 persen lebih rendah. Harga properti naik bahkan sampe 20 persen tiap tahun.

Paling enggak udah nyicil hunian 3 tahun sebelum nikah

via: Tenor

Serius. Beli hunian dulu baru nikah. Kalo udah berkeluarga apalagi punya anak, kan makin sudah sediain uang buat nyicil rumah. Tanya aja orangtua kamu kalo gak percaya.

Lagian, calon mertua di seluruh dunia pasti lebih rela anaknya dilepas ke dekapan orang yang udah punya tempat tinggal, kan?

Kalo kata Untung, “Jangan cuma pamer gadget dan jalan-jalan. Pamer properti juga harus.” (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.