Kamis, 2 April 2020

Genmuda – Panik yang tiba-tiba datang sering jadi hambatan kegiatan sehari-hari. Jantung yang berdebar jelang presentasi di depan publik menyebabkan gangguan tidur. Keesokannya, kaki gemetar gigi kuning bikin presentasi di depan kelas seolah hal paling memberatkan dalam hidup kamu.

Para orangtua dan kata-kata bijak bilang, kepanikan justru memberikan kamu kekuatan lebih untuk mengerjakan sesuatu. Meski terdengar klise, tapi pendapat itu terbukti berdasarkan riset mengenai hubungan panik dengan daya ingat.

Jurnal Brain Sciencebaru-baru ini rilis penelitian yang membuktikan bahwa orang panik cenderung lebih jago mengingat. Kesimpulan itu muncul setelah para peneliti University of Waterloo, Kanada bereksperimen pada 80 mahasiswanya.

Keadaan tenang memperburuk ingatan

via popkey.co

Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Mereka bersaing banyak-banyakan mengingat huruf dan detil dari dua jenis gambar yang dimunculkan di hadapan mereka.

Gambar untuk kelompok pertama mengandung pesan netral, alias gak bikin panik. Misalnya, gelas kuning, meja putih, kapal oranye, atau benda sehari-hari yang biasa dilewat begitu aja sama ingatan.

Kelompok kedua dikasih gambar dengan pesan negatif, alias bikin panik atau minimal degdegan. Contohnya, kecelakaan mobil, kebakaran, WTC, dan kejadian yang menimbulkan panik atau keresahan.

Bersamaan dengan ditampilkannya gambar itu, para peneliti juga menampilkan kata-kata untuk diingat. Hasilnya, kelompok pertama mengingat lebih sedikit kata daripada kelompok kedua.

Hikmah uji cobanya

via imgur.com

“Pada titik tertentu, kepanikan justru bermanfaat bagi ingatan,” kata Myra Fernandes, profesor Departemen Psikologi, sekaligus salah satu peneliti dari University of Waterloo Kanada.

Biar begitu, kebanyakan panik juga bikin seseorang parno hingga pada titik ketakutan. Apabila itu terjadi, ingatannya justru akan buyar. Jadi, emang penting untuk mengatur kepanikan (kalau bisa diatur).

Manfaat kepanikan sebenarnya pernah kamu rasain dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat kamu tiba-tiba berlari lebih cepat dari biasanya gara-gara dikejar anjing. Atau, saat kamu menulis panjang-lebar dalam ujian essay.

Atau, saat omongan kamu mendadak jauh lebih sopan dari yang pernah kamu bayangin gara-gara diajak ngobrol calon mertua. Tapi, begitu obrolannya dialihkan ke soal pelaminan, kamu terlalu panik hingga akhirnya gagap dan lupa kata-kata. Seperti itulah kesimpulan risetnya. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.