Rabu, 1 April 2020

Genmuda – Minggu, (23/4) kemarin jadi hari yang naas buat 11 pendaki di Gunung Prau, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah yang tersambar petir. Dari peristiwa tersebut 3 pendaki meninggal dunia, 2 orang luka serius, dan 8 lainnya selamat dengan beberapa luka di badannya sekaligus mengalami trauma pasca insiden.

Sebenernya, 11 orang pendaki asal Jakarta ini udah naik dan berhasil sampai puncak, tapi mereka tersambar ketika deket tower saat kondisi hujan. Semenjak kejadian ini, akhirnya seluruh jalur pendakian Gunung Prau ditutup untuk sementara sejak tanggal 24 April sampai waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil karena cuaca yang gak mendukung buat pendakian, sekaligus sebagai wujud duka cita buat keluarga para korban.

Salah satu korban selamat yang dievakuasi oleh pihak kepolisian dan ranger

Mujib Safi’i, selaku Ranger Basecamp Patak Banteng mengkonfirmasi bahwa penutupan semua jalur ini berdasarkan hasil diskusi sama semua ranger dari masing-masing basecamp Gunung Prau. Pihak lain yang terlibat adalah Forum Koordinasi Gunung Prau Indonesia (FKPI), pihak kepolisian sekitar, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Dilansir dari detik.com, Pak Mujib menjelaskan kalo semua lokasi pendakian Gunung Prau ini udah steril dari pendaki, karena semuanya udah turun per jam 03.00 Senis (24/4).

Udah banyak banget kejadian korban yang kesamber petir gini, baik di gunung, ataupun di luar ruangan lainnya. Dilansir dari akun instagram @mahaprau, ini dia cara buat mengantisipasi badai dan petir di luar ruangan.

1. Perhatiin pergantian cuaca

Pastiin cuacanya bagus pas kamu mau keluar

Sebelum kamu mau naik gunung atau keluar bepergian, pastiin kamu ngecek perkiraan cuacanya. Meskipun gunungnya rendah, tapi kamu gak boleh sama sekali nyepelein soal cuaca. Waspadai tanda alam, kayak mendung, angin, gerimis, kelembaban, suhu, bau, suara, dan medan listrik. Semua tanda tadi adalah sinyal dari awal berubahnya cuaca, termasuk datangnya petir.

2. Pilih tempat

Hindari tempat tertentu disaat cuaca gak bagus

Minimalisir risiko kamu dengan cari tempat yang lebih rendah dan gak terbuka. Hindari juga padang rumput, puncak atau punggungan gunung yang terbuka. Selain itu, kamu juga mesti cari tempat yang lebih rendah dari tempat kamu berdiri. Dan yang terakhir, kalo bisa kamu harus hindari pohon atau obyek yang berdiri sendiri. Meskipun di gunung banyak pohon, jangan pernah kamu coba berlindung atau menempel di pohon. Kalo kamu berdiri di permukaan dengan air, cepet-cepet deh keluar dari situ, karena air bisa mengantarkan listrik.

3. Hindari beberapa peralatan penghantar listrik

via: tenor.co

Matikan peralatan yang mengandung gelombang dan memantulkan radiasi elektromagnetik kayak telepon seluler (handphone) dan Global Positioning System (GPS) atau benda-benda lainnya yang sejenis. Kalau kamu terpaksa mesti pake kompas, coba aja buat pake kompas bidik, atau ikutin aja jalan yang ada penandanya (ribbon). Pokoknya, sebisa mungkin kamu mesti hindari peralatan atau aksesoris yang berbahan metal, karena itu bisa memancing dan menghantarkan listrik.

4. Lindungi diri kamu

Alas tidurnya pakai yang gak menghantarkan listrik ya

Alasi badan kamu pakai matras atau bahan yang gak menghantarkan listrik, contohnya plastik. Pastiin posisi kamu dan temen-temen kamu jangan terlalu berdekatan ya, malah kalo bisa sih nyebar aja. Ini mengantisipasi jika ada yang tersambar kamu gak ikutan tersambar dan bisa jadi penolong dalam kondisi darurat.

5. Pasang badan

via: Google
(Sumber: Istimewa)

Sebelum pasang badan, jangan lupa buat lepas ransel kamu. Takutnya ada material berbahan metal yang bisa memancing petir. Nah, kalo emang tempat kamu udah keperangkap sama petir, ini posisi yang harus kamu lakukan. Ambil posisi jongkok dengan merapatkkan ke dua kaki, dengan tumit yang bersentuhan. Tutup kuping dengan sikut yang menyentuh lutut, terus tundukkan kepala serendah-rendahnya tanpa nyentuh tanah. Dengan cara ini, petir yang menyambar di dekat posisi akan mengalir ke dalam tubuh. Tapi, kalo kedua tumit kaki kamu kebuka, petir itu akan loncat dan nyamber tubuh kamu.

6. Berdoa

via: tenor.co

Berdoanya dari awal pendakian nih harusnya. Semoga cuacanya cerah, di puncak gak kena badai, nanti malem pas nginep gak banyak angin, dan semuanya yang berkaitan sama cuaca. Karena cuaca susah banget diprediksi, jadi yang kamu bisa lakukan adalah berdoa sama Tuhan Yang Maha Esa.

Sekalipun menurut kamu gunung yang mau kamu daki itu rendah atau jalur yang dilewatinnya gampang, tapi kamu sama sekali gak boleh nyepelein apapun. Karena kalo udah di alam bebas, yang bisa kita lakuin ya cuma bisa pasrah dan berusaha yang terbaik buat melindungi diri. (sds)

Comments

comments

Fiany Intan Vandini
The youngest reporter on the 2nd floor of Gen Muda Office.