Rabu, 17 Juli 2019

Genmuda – Silakan kalo kamu gak terima pendapat berikut, tapi ini adalah sebuah realita kehidupan. Anak muda jalan-jalan bukan cuma untuk mencari jati diri dan pengalaman, melainkan buat pamer di media sosial. Akhirnya, lupa sama yang namanya investasi.

Ya kan? Gak perlu galau begitu inget nominal saldo tabungan. Santai aja. Kamu bisa sisihkan uang jajan, uang hasil jualan olshop, atau gaji bulanan dengan beberapa cara investasi yang kesannya kayak bercanda di bawah ini biar tetep punya simpanan berharga.

Bitcoin

via Google PlayStore
Beruntunglah mereka yang tahun 2008 udah beli satu atau dua bitcoin. (Sumber: Google PlayStore).

Sampe Jumat (22/12), belum ada aturan jelas soal Bitcoin di Indonesia. Harga mata uang digital yang harus disimpen di hardware tersendiri itu terus naik sejak diciptain sekitar 2008. Kalo saat itu satu bitcoin bisa dapet pizza, satu bitcoin sekarang bisa beli satu kamar apartemen.

Harganya naik dari ratusan ribu rupiah jadi 184,7 jutaan rupiah pada Jumat (22/12) dalam beberapa tahun aja. Namun, hati-hati juga karena apapun yang naiknya melejit turunnya pasti menukik.

Mata uang game

via YouTube
Pada puncak popularitas Ragnarok Online, satu juta Zeny masih laris dijual 100-300 ribu rupiah. (Sumber: YouTube.com)

Ah, sudahlah. Gak usah sok patuh. Peraturan semua game online macam Ragnarok Online, Seal, dan lain-lain ngelarang jual-beli mata uang game dengan uang beneran, tapi praktik itu tetep berlangsung, dan pengawasannya terbilang lemah.

Para pelakunya gak dikenai hukuman berat, malah ada yang sampe jadiin jual-beli mata uang game sebagai mata pencarian. Strateginya jualannya standar, kok. Pertama, beli dulu uang game secara borongan dengan harga kecil. Pasti ada yang mau. Lalu, jual dengan harga lebih tinggi. Gitu aja.

Barang langka di game online

via YouTube
Game “Elder Scrolls Online” adalah lapak jual-beli barang langka. (Sumber: YouTube.com)

Kamu juga bisa jualan barang langka di game dengan uang beneran. Percaya gak percaya, itu yang dilakuin Itthipat Peeradechapan di masa sekolah. Pendapatannya dikumpulin buat bangun merk cemilan rumput laut goreng Tao Kae Noi.

Akun game online

via akamaihd.net
Game apapun ini, pasti ada kegiatan jual-beli akun di dalamnya. (Sumber: akamaihd.net)

Kalo mau cara yang lebih jujur meraup untung dari game online juga bisa. Main aja yang rajin sampe dapet level terbilang tinggi. Setelah itu, jual akun beserta seluruh karakter dan barang-barang berharganya dengan banderol perhitungin balik modal plus untung.

Konsol next-gen

via concept-phones.com
Salah satu konsep PS5 buatan netizen. (Sumber: concept-phones.com)

Begitu PS5 dan  Xbox generasi selanjutnya mau rilis, langsung beli dan jangan dimainin. Simpen dulu beberapa saat, lalu jual lagi saat harganya naik. Pasti naik! Apalagi, begitu developer berlomba-lomba ngerilis game bagus.

Atau, sewain konsolnya. Coba promosiin lewat Instagram. Banyak yang mau nyewa dan rela bayar agak mahal selama barangnya masih langka, kok. Tapi, hati-hati supaya barangnya enggak dicuri penyewa, ya.

Properti

via Tumblr.com
Punya kamar apartemen kayak gini asik banget, nih. Punya loh, ya. Bukan nyewa. (Sumber: Tumblr)

Country General Manager Rumah123.com Indonesia, Ignatius Untung, Rabu (20/12) sama sekali menentang pendapat apapun yang bilang kalo generasi millennial mustahil punya properti sendiri.

Doi optimis, gaji yang diterima para pemudia usia 25-30 tahun cukup banget beli rumah atau apartemen seharga 46 kali gajinya. “Cicilannya cukup 30 persen gaji bulanan selama 20 tahun. Gaji akan bertambah terus sementara cicilan selalu tetap. Masa tidak bisa?” tuturnya.

Cara mengakali proses yang berat selama 3 tahun pertama itu bisa Kawan Muda baca di link artikel Genmuda.com ini. Coba baca lagi, terus tentuin sendiri pengennya investasi kekinian yang mana.

Cara lain bisa dilakuin dengan investasi pada program jangka panjang macam deposito, tabungan emas, atau mungkin juga reksa dana. Apapun pilihannya, bukan masalah selama Kawan Muda berhemat. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.