Rabu, 19 Februari 2020

Genmuda – Pernahkah kamu mendengarkan sebuah lagu dan seketika merasa sedih? Atau mendadak perasaan kamu berkecamuk dan ingin berteriak? Jika ya, kamu telah tersihir megahnya barisan nada yang engga bisa dijelaskan, musik.

Engga ada yang salah, emang seperti itulah cara kerja musik. Membius pendengar melalui lirik yang menyayat dan lantunan nada yang dihasilkan. Membius, menusuk tajam sel otak di pikiran kita yang membuahkan beragam perasaan.

Namun, jika saat mendengarkan musik seketika lengan, leher, atau bagian tubuh lainnya di diri kamu  merasa merinding, hal itu disebut dengan frisson (getaran). Istilah Prancis tersebut secara umum diartikan sebagai ‘aesthetic chills’, saat di mana gelombang musik mempengaruhi permukaan kulit kamu.

Beberapa peneliti bahkan menyebutnya orgasme kulit yang dihasilkan karena mendengarkan musik, seperti ditulis Mitchell Cover di theconversation, beberapa waktu lalu. Menurutnya, mendengarkan lagu yang emosional mampu memicu hal tersebut. Dan akan lebih terasa jika kamu mendengarkan sambil melihat karya seni yang indah.

Melihat kenyataan tersebut, tentunya berhasil menjawab mengapa musisi kerap menyuguhkan visual yang menarik menjadi sampul album, atau video klip mereka, sesuai dengan konsep lagu yang disuguhkan.

Penelitian yang ia jalani menunjukan hanya sekitar dua pertiga populasi manusia yang dapat merasa tersentuh dan merinding saat mendengarkan lagu. Kenapa?

(Sumber: psypost)

Colver kemudian mendatangi laboratorium Dr. Armani El-Alayli, seorang profesor di Eastern Washington University. Dalam kunjungannya, Dr. El-Alayli engga bisa menjawab dengan tepat, kenapa engga semua manusia mampu merasakan yang sama. Ia hanya menduga bahwa keadaan itu tergantung sistem tubuh pendengar ketika mendapat rangsangan emosional.

Menurut Dr. El-Alayli, “Harmoni musik yang tak terduga, perubahan tempo atau volume yang mendadak menjadi satu faktor yang mempengaruhi pendengar.” Ia beranggapan, musik yang mampu menyeret sisi emosional karena musik itu telah membangkitkan harapan para pendengarnya.

Sebagai contoh, pada tahun 2015 silam, penyanyi asal Inggris, Adele menyamar sebagai seorang peserta di kontes penyanyi yang meniru dirinya. Adele menyamar sebagai Jenny, dengan beberapa perubahan di wajah dan tubuhnya guna menutupi paras aslinya. Namun, ketika Adele bernyanyi di hadapan para peserta kontes, sejak bait pertama, mereka percaya bahwa wanita yang berdiri di depan mereka adalah Adele yang sesungguhnya.

Reaksi mereka beragam. Ada yang memeluk tubuhnya sendiri karena merasa merinding, ada yang matanya berlinang air mata, kaget, dan hal serupa. Para peserta kontes itulah dianggap berhasil merasakan frisson (getaran) secara langsung, dengan sisi emosional yang mendadak bangkit ketika mendengar sesuatu yang indah. Bukan karena penampilan Adele yang berperan sebagai Jenny.

Intinya, penelitian yang Colver lakukan bersama El-Alayli berhasil membuktikan bahwa hubungan indra pendengaran dengan perasaan mempunyai tahap yang lebih tinggi, dalam musik. Penglihatan memang satu hal yang utama juga, namun, dalam kasus pengaruh musik dengan diri kita, melalui contoh di atas anggapan itu berhasil dibantah. Suaralah, entah sang penyanyi atau hamonisasi, yang membuat kita mampu menikmati setiap detiknya.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu salah satu orang yang mudah dibangkitkan sisi emosionalnya ketika mendengarkan lagu? Kalau iya, ceritain ke kita ya lagu favorit kamu di kolom komentar ya. Happy listening, Kawan Muda!

 

Sumber: theconversation | (sds)

Comments

comments

Bobi Brilyan Bastenjar
Valar Morghulis