Selasa, 18 Desember 2018

Genmuda – Batik gak hanya menjadi milik masyarkat Indonesia, namun masyarakat dunia mulai menyukai batik. Gak heran jika batik Indonesia udah go international. Fakta ini terbukti dari nilai ekspor batik dari masa ke masa yang menunjukkan perkembangan positif, Kawan Muda.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), capaian nilai ekspor batik dan produk batik pada 2017 sebesar 58,46 juta dolar US atau setara Rp 889 miliar lebih (kurs USD 1 = Rp 15.210). Pasar utama batik Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat (AS), dan negara-negara di Eropa.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ikut berperan aktif dalam industri kreatif, salah satunya batik. Salah satu momennya melalui Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) – World Bank (WB) 2018, yang diselenggarakan di Nusa Dua Bali pada 8-14 Oktober 2018.

Pada perhelatan internasional ini, Selasa (9/10) BUMN menghadirkan Indonesia Pavilion, yang juga didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementerian Keuangan.

Indonesia Pavilion sendiri merupakan pameran yang menampilkan banyak hal menarik tentang Indonesia dari segi pembangunan, bisnis, proyek-proyek strategis nasional, wisata hingga kekayaan seni budaya, serta kerajinan tangan khas Indonesia, termasuk batik Indonesia.

Salah satu pengrajin yang ikut berpartisipasi dalam Indonesia Pavilion adalah pengrajin batik asal Lasem, Jawa Tengah. Pengrajin batik tersebut adalah suami-istri Pak Sugiyarto (53) dan Ibu Jumiaty (46) yang memproduksi Batik dengan warna alam.

via: Indonesia Pavilion
Dok. Indonesia Pavilion/2018

Ibu Jumiaty memproduksi Batik Lasem dengan motif seperti Sekar Jagat (Bunga Sejagat) yang memiliki motif berbagai bunga, Batik Baganan yang memiliki motif Kawong Mata Dua, Kawong Bunder, Gitaran, Kawong Rambutan, Kawong Melati dan Sidomukti.

Salah satu warna khas dari batik Lasem adalah getih pitik atau merah darah ayam. Warna pada batiknya dihasilkan dari campuran dari bubuk pewarna merah alami dengan air lasem. Warna lain yang kerap menghiasai kain adalah merah, biru, oranye, kuning, dan cokelat.

FYI, pengrajin tersebut merupakan Mitra Binaan salah satu Bank BUMN yaitu BNI, Ibu Jumiaty selama enam tahun ini menjual Batik Warna Alam dengan kisaran harga Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta per kain.

Dirinya mengaku senang dapat ikut berpartisipasi di Indonesia Pavilion. Dengan adanya kesempatan ini, ia berharap Batik bisa semakin dikenal luas, gak hanya di Asia, tetapi juga di dunia.

“Harapan kami, dengan hadir di sini, semua pengunjung, termasuk para delegasi dapat mengetahui Batik Indonesia sehingga dapat go international,” tutup Ibu Jumiaty dalam siaran pers yang Genmuda.com terima. (sds)

Comments

comments