Minggu, 24 Juni 2018

Genmuda – Film “Tengkorak” karya Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada tayang di Festival Film Cinequest 2018, San Jose, California, AS, pada 1-3 Maret kemudian 9 Maret. Peroleh sambutan hangat, film itu masuk nominasi Best Film kategori Science Fiction, Fantasy and Thriller.

Kata Sutradara Yusron Fuadi, tanggapan publik AS positif karena ceritanya dinilai berani dan eksekusinya baik dalam ukuran film independen. “Satu penonton berkomentar ini tidak seperti film independen. Saya jelaskan, kami tidak punya uang banyak tapi punya waktu sangat banyak,” kata Yusron.

Sutradara sekaligus dosen Program Studi Komputer dan Sistem Informasi Sekolah Vokasi UGM itu dateng ke AS bareng dekan sekaligus Executive Producer Wikan Sakarinto. Pemeran utamanya, Eka Nusa Pertiwi serta Animator & Special Effect Anindita Surya Laksmi juga hadir.

Karya selama 4 tahun

via Istimewa
(Sumber: Istimewa)

Film fiksi-ilmiah itu dibungkus dalam balutan humor dan kearifan khas warga Yogyakarta. Narasinya bercerita tentang penemuan fosil tengkorak berusia 170.000 tahun di Pulau Jawa yang bikin gehger ilmuwan, pemuka agama, serta gadis yang ingin menguak misteri di balik tengkorak itu.

“Gagasannya muncul sejak 2013, kemudian penulisan naskah sekitar satu tahun. Tahun berikutnya sampai bulan kemarin dipakai untuk pembuatan film. Jadi, penyelesaiannya butuh sekitar 4 tahun,” kata Yusron.

Bagi sang sutradara, film tengkorak ibarat penyaluran obsesi masa kecilnya. Sejak usia 9 tahun, dia senang film “Star Wars” dan bercita-cita bikin film fiksi ilmiah, genre yang jarang di Indonesia.

Film berdurasi 130 menit itu butuh 127 hari pengambilan gambar di 4 kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, Singapura, Merapi, Bromo, dan banyak tempat lain.

Project jurusan yang jadi project universitas

via Istimewa
Eka N Pertiwi, pemeran utama filmnya. (Sumber: Istimewa)

Dari awalnya merupakan project jurusan, film “Tengkorak” berkembang jadi project universitas. Tim produksinya gak cuma berasal dari kalangan dosen dan mahasiswa Prodi Diploma Komputer dan Sistem Informasi UGM.

Bahkan Rektor UGM Panut Mulyono juga main di film itu diikuti sekitar 10 dekan dari berbagai fakultas dan mahasiswa. “Pokoknya, ini merupakan karya civitas akademika UGM,” ujar Wikan Sakarinto selaku Exec Producer.

Bujet ratusan juta

via Istimewa
(Sumber: Istimewa)

Wikan bilang, film itu dibuat dengan bujet 500 juta rupiah yang berasal dari sumbangan para dosen. Bujet aslinya lebih dari itu karena honor para pemain belum masuk hitungan di sana.

Untunglah peralatan pembuatan filmnya berasal dari kampus, termasuk beberapa kamera dan komputer untuk membuat animasi. Ada menara dalam film yang sebenarnya merupakan animasi buatan komputer seharga 60 juta rupiah.

Wikan berharap, “Tengkorak” mampu buktiin kebolehan sekolah vokasi supaya gak melulu dipandang sebelah mata. Bagi UGM, film itu membawa pesan bahwa karya yang diakui publik luar negeri bisa rampung meski dengan modal minim.

Sebelum diputar di AS, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir udah nonton cuplikannya di Yogyakarta. Dia bilang, film itu tunjukkan pendidikan vokasi mampu hasilkan lulusan yang kompeten membuat output inovatif.

Kita berdoa aja supaya film “Tengkorak” bisa menemukan rumah di Tanah Air, disukai para movie-goers, dan jadi salah satu film terlaris. Amiin. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.