Kamis, 18 Oktober 2018

Genmuda – Film superhero dari komik emang jadi bisnis paling menjanjikan buat Hollywood. Gak heran kalo banyak rumah produksi yang berbondong-bondong mengangkat tokoh superhero ke layar lebar.

Nah, kalo Kawan Muda udah bosan dengan cerita superhero yang gitu-gitu aja, kali ini Sony Picture bakal kasih kamu opsi lain pada film “Venom” yang mulai tayang tanggal 3 Oktober 2018 di Indonesia. Kayak gimana serunya? Langsung aja baca review tengah pekan berikut ini!

Lahirnya sosok antihero

©Columbia Pictures/Sony Pictures 2018
©Columbia Pictures/Sony Pictures 2018

Konflik film dimulai saat Eddie Brock (Tom Hardy), seorang wartawan investigasi ternama yang jago membongkar kasus-kasus penting dalam acaranya. Ia merupakan reporter idealis yang gak suka membahas topik-topik receh.

Suatu hari Eddie lantas ditugaskan mewawancarai pengusaha dan pemilik yayasan penelitian Life Foundation, Carlton Drake (Riz Ahmed) dalam acaranya untuk kepentingan kantornya. Dengan terpaksa Eddie harus menuruti kemauan atasannya untuk mewawancarai Drake.

Sehari sebelum wawancara, Eddie lalu menemukan dokumen kematian korban dalam penelitian yayasan Life Foundation dari laptop pacarnya, Anne Weying (Michelle Williams). Maksud hari membongkar skandal tersebut, kehidupan Eddie malah hancur karena harus dipecat dari pekerjaan, terlilit hutang, hingga gagal menikah dengan Anne.

Eddie kemudian mencoba menyusup ke dalam laboratorium Life Foundation untuk mencari bukti tambahan bahwa ada penyimpangan penelitian yang dilakukan oleh Drake. Aksinya terungkap dan sel simbiot yang diteliti Drake masuk ke dalam tubuh Eddie dan mengubah dirinya menjadi seorang Venom.

Venom yang luwes tanpa adanya Spider-man

©Columbia Pictures/Sony Pictures 2018
©Columbia Pictures/Sony Pictures 2018

Sama seperti pada film “Spider-man 3” (2007), Eddie tetaplah sosok antihero dan sama-sama pecundang. Bedanya, fokus Sony dan Columbia dalam mengeksplor tokoh Venom terbilang cukup ampuh. Meski punya rating dewasa, sutradaranya, Ruben Fleischer, mampu mengemas sosok Venom dengan lebih santai dan manusiawi.

Walaupun gak ada Spider-Man sekalipun film ini punya jalan cerita yang cukup menghibur dalam segi humor yang ditawarkan. Jika sebelumnya Peter Parker terlihat panik dan konyol saat tau punya kekuatan super, skenario serupa juga diperlihatkan oleh Eddie saat pertama kali berinteraksi dengan Venom di dalam dirinya.

Kesimpulannya

©Columbia Pictures/Sony Pictures 2018
©Columbia Pictures/Sony Pictures 2018

Lewat pengemasan sinematografi epik, “Venom” boleh dibilang lumayan berhasil menampilkan jalan cerita segar untuk film anti-hero. Menjawab kehadiran Sony’s Universe of Marvel Characters (SUMC), film ini juga memberikan peluang crossover dengan film Spider-man.

Hal ini terlihat dengan disinggungnya kejadian Daily Bugle ,–nama kantor dari Eddie Brock dan Peter Parker, yang menyebabkan nama dan karir Eddie dicap jelek.

Secara keseluruhan, Venom seperti menggabungkan unsur thriller, action, dan humor dalam satu film. Engga terkesan ‘wah’ bagi penulis, karena pada satu sisi cerita film justru melahirkan gagasan simbiosis yang saling membutuhkan untuk bertahan hidup pada kasus simbiot dengan Eddie. Konsekuensinya cuma ada dua, menolak atau membiarkan simbiot itu hidup di dalam tubuh.

Terlepas ekspetasi pada trailernya, akting Tom Hardy sebagai Venom layak diacungi jempol. Sang aktor berhasil menghibur penonton lewat sosok Eddie yang songong tapi juga konyol. Kalo kamu butuh cerita alternatif dari sosok anti-hero, maka film ini tetep layak buat ditonton.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.