Rabu, 25 April 2018

Genmuda – Apa persamaan antara Liverpool dengan AS Roma? Sama-sama underdog berkostum merah saat berlaga pada Rabu dini hari (11/4) melawan tim berkostum biru. Terus, sama-sama lolos ke semifinal Champions League 2018.

via telegraph.co.uk
Gol cantik berseri Mo Salah. (Sumber: telegraph.co.uk)

Di kandang Manchester City, gol cepat Gabriel Jesus buat City pada menit ke 2 malah pompa semangat Liverpool. Kaki Mohamed Salah pada menit 56 dan gol Roberto Firmino di menit 77 bikin The Reds unggul 1-2 hingga akhir.

Sebelumnya, Liverpool di kandang sendiri mempermalukan anak-anak asuh Pep Guardiola dengan skor 3-0. Dengan demikian, City dipastikan cabut dari Champions.

via telegraph.co.uk
Group hug AS Roma rayain kelolosannya. (Sumber: telegraph.co.uk)

Beralih ke Stadio Olimpico pada malam yang sama, AS Roma berpesta dengan skor 3-0 dari Barcelona. Gol Roma dari De Rossi dan Manolas ibarat gantirugi atas gol bunuh diri mereka saat berhadapan sama Barca, 5 April lalu. Kala itu, Roma kalah 4-1 di kandang Barca.

Tapi, pahlawan malam itu adalah Edin Dzeko yang ciptain gol pertama pada menit ke 6, sekaligus bakar semangat Roma. Dzeko juga lah yang menjebol gawang Barca di kandangnya, 5 April lalu.

Meski skor agregat Roma v Barca adalah 4-4, skuad asuhan Ernesto Valverde yang dinyatakan gugur dari Champions League lantaran kebobolan di kandang sendiri. AS Roma pun melaju sambil agak deg-degan ke semifinal.

Underdog biasanya juara

via metro.co.uk
Dejan Lovren girang atas kemenangan Liverpool. (Sumber: metro.co.uk)

Kemenangan Liverpool dan AS Roma adalah kemenangannya underdog. Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp sempet engga pede. Doi merasa Manchester City adalah lawan yang superberat lantaran bertabur bintang.

Soalnya, di English Premier League, Manchester City bertengger di puncak klasemen sementara Liverpool luntang-lantung di posisi 3 sambil dipepet ketat sama Spurs tepat di bawahnya.

via telegraph.co.uk
Kostas Manolas (kanan) rayain golnya. (Sumber: telegraph.co.uk)

Sementara itu, AS Roma jelas underdog pada perempat final Champions. Lihat aja kelalahannya waktu bertandang ke kandang Barca. Ada dua gol bunuh dirinya, loh. Kalah 4-1, loh waktu itu.

“Ini bukan keberuntungan. Inilah yang terjadi! Tapi, ini belum cukup. Kami punya target menuju final. Dengan squad luar biasa seperti ini, kenapa engga?” kata Eusebio DI Francesco, pelatih AS Roma.

Tim yang kalah berkelat-kelit

via theguardian.com
Pep Guardiola (kiri, baris kedua) muram. (Sumber: Theguardian.com)

Satu hal yang dikambinghitamkan Pep Guardiola atas kekalahan anak-anak asuhnya atas Liverpool. Yaitu, wasit. Menurut Pep, Mateu Lahoz memimpin pertandingan itu sambil terlalu membela Liverpool.

“Dia adalah wasit yang suka merasa berbeda, dia suka menjadi ‘spesial.’ Saya kenal Mateu Lahoz,” protes Pep menyindir sang wasit.

via barcablaugranes.com
Ernesto Valverde garuk-garuk kepala. (Sumber: barcablaugranes.com)

Sementara itu, Ernesto Valverde menerima kekalahan dengan lebih bijak. “Saat kalah begini, yang bisa kami lakukan hanya menganalisis kesalahan yang terjadi. Satu-satunya penyesalan adalah kami tidak lebih giat memanfaatkan kesempatan pada pertandingan,” tuturnya.

“Minggu lalu kami main baik. Kami mampu membuat 4 angka, bukan?” tambah pelatih Barcelona itu engga bisa move-on dari kemenangan terdahulu.

Pukpukpukpuk. Gak usah pada sedih gitu, dong. Seenggaknya Manchester City dan Barcelona masih bertengger di posisi puncak liga masing-masing, toh? Kehilangan satu trofi gak masalah lah ya. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.