Rabu, 15 Agustus 2018

Genmuda – Sebagian orang melewati Hari Raya Idul Fitri dengan senyum lebar bersama orang terdekat, sementara sebagian lagi ada yang melewatinya dalam sepi kayak jalan tol baru diresmiin. Golongan tipe kedua itu adalah mereka yang memilih tinggal di kota selama Lebaran.

Gak salah sih. Bisa aja mereka udah keseringan mudik atau malah emang dia gak punya kampung halaman. (Kita sebut saja mereka adalah “anak-anak komplek”) Jangan buru-buru ngecengin mereka gengs.

Karena walau berada di tengah kemegahan kota besar, mereka justru mengalami banyak cobaan yang belum tentu dirasain sama kamu yang mudik. Misalnya, kayak di bawah ini nih!

Gak punya teman nongkrong

via tenor.com

Teman nongkrongnya pulang kampung dan makan-makan bersama keluarga besar. Baru bisa nongkrongnya baru nanti, itu juga gak tau kapan. Mungkin, saat tiba waktunya masuk kerja.

Penjagaan diperketat

Para satpam biasanya beride brilian. Demi mencegah aksi pencurian terjadi di area penjagaannya, keamanan diperketat. Kadang, ketatnya melebihi keamanan di area perkantoran. Masuk kompleks harus buka kaca mobil dan kaca helm biar muka keliatan. Keluar kompleks pun demikian adanya.

Banyak pengalihan jalur

via tenor.com

Upaya memperketat keamanan perumahan juga berimbas pada penutupan beberapa portal. Jalur keluar-masuk yang biasanya tersedia di segala penjuru, berubah jadi pemusatan di satu jalur. Jadi, wajar aja antrean keluar-masuk kompleks suka panjang dan semua orang dibikin keder karena harus muter-muter jalan.

Tempat nongkrong tutup

Saat Lebaran, anak-anak kompleks gak bisa berkutik untuk menyalurkan hasrat nongkrongnya. Mau gimana lagi. Banyak cafe tutup dan baru buka beberapa hari, bahkan beberapa pekan setelah Lebaran. Akibatnya, warkop pinggir jalan juga ditongkrongin, deh.

Mal lebih ramai daripada pasar

via tenor.com

Jalanan emang relatif lebih kosong ketimbang hari kerja. Namun, mal tetap penuh. Malah, lebih sesak daripada akhir pekan pada umumnya. Kenapa? Karena mal satu-satunya tempat nyari hiburan yang buka buat orang yang gak mudik.

Mau beli baju? Ke mal. Mau nyari makan? Ke mal. Mau melaksanakan buka bersama yang kini berubah nama jadi halalbihalal? Ke mal juga tujuannya.

Apa intinya? Tinggal di kota tuh gak segitu menyenangkannya kok, gaes. Kalo kamu dipaksa mudik sama orangtua, nurut aja. Justru kebersamaan sepanjang perjalanan itu gak bakalan ada yang ngalahin. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.