Jum'at, 21 Februari 2020

Genmuda – Jelang Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 besok, kayak udah banyak slot film yang rutin diputas pas tanggal 17 Agustus. Paling banyak yang bisa kamu tonton gak lain dan gak bukan adalah film soal sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kalo dalam artikel sebelumnya Genmuda.com udah pernah kasih tau kamu lagu yang sering diputer pas HUT Kemerdekaan, sekarang kami akan kasih beberapa film Indonesia yang gak punya cerita soal sejarah kemerdekaan, tapi malah bisa bikin kamu bangga karena tinggal dan menjadi rakyat Indonesia. Berikut ulasannya!

“Tabula Rasa”

Di tahun 2014 film “Tabula Rasa” menjadi salah satu film Indonesia anti-mainstream. Kenapa Genmuda.com bilang gitu? Soalnya jarang banget ada film Indonesia bertemakan kuliner. Diceritain, pemuda asal Papua bernama Hans (Jimmy Kobogau) harus membaur sama Mak (Dewi Irawan), Parmanto (Yayu A.W. Unru), dan Natsir (Ozzol Ramdan) yang mengelola rumah makan padang (lapau).

Supaya bisa bertahan di tengah persaingan lapau yang lebih bermodal, mereka perlu kesampingin perselisihan receh dan hasilkan masakan terbaik. Film ini bener-bener tunjukin kalo perbedaan itu indah, gengs.

“Filosofi Kopi”

Sekuel keduanya emang baru aja dirilis bulan Juli 2017 kemarin. Namun demikian film yang diadaptasi dari novel Dewi Lestari tersebut punya banyak pesen menarik dari persahabatan Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto).

Menariknya, Filkop bukan cuma soal kopi melulu. Beberapa waktu lalu Genmuda.com pernah mewawancarai Angga Dwimas Sasongko selaku sutradaranya, doi mengakui bahwa film ini berusaha memajukan kekayaan alam Indonesia dan mengenalkan beragam kopi asli Indonesia sekaligus membantu para petani kopi. Ntap!

“Cek Tokoh Sebelah”

Walau bergenre komedi, film karya Ernest Prakasa ini justru nyentil banget buat kondisi masyarakat Indonesia seperti sekarang. Diceritain Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest) adalah kakak beradik dari Koh Afuk (Chew Kin Wah). Suatu hari kondisi Koh Afuk kurang begitu baik dan akhirnya mewarisi toko sembakonya kepada Erwin, yang jadi anak kesayangan.

Yohan sebagai kakak ngerasa gak terima atas perlakuan Koh Afuk. Doi ngerasa sebagai anak paling tua kayak gak dihargai oleh kedua orang tuanya. Sikap Yohan yang sering memberontak turut menjadi alasan Koh Afuk gak mau mempercayainya. Di sini Ernest berusaha ngasih tau manis dan pahitnya hidup sebagai orang Tionghoa di Indonesia. Konflik rumah tangga yang muncul di film ini juga siap bikin sedih, loh.

“Cahaya dari Timur”

Masuk ke tahun 2010-an film Indonesia bertemakan olahraga emang mulai banyak dilirik produser film. Dan salah satu yang paling kece dan inspiratif menurut Genmuda.com adalah film “Cahaya dari Timur.”

Sama sekali gak menawarkan kehidupan mewah layaknya di kota-kota besar di Pulau Jawa, semangat anak-anak dari Ambon dalam meraih cita-cita lah yang justru layak diacungin jempol dalam film ini. Premis film garapan Angga Dwimas Sasongko ini juga nyentrik banget yaitu, “5 Tahun Konflik, ribuan korban berjatuhan. Sebuah tim sepakbola menyatukan mereka.”

Jadi wajar kalo akhirnya “Cahaya dari Timur” menyabet gelar Best Film di FFI 2014 dan Best Feature Film di Maya Awards 2014.

“Laskar Pelangi”

Sebelum “Warkop DKI: Reborn” menjadi film terlaris di Indonesia. “Laskar Pelangi” lah yang berhasil menawarkan jalan cerita inspiratif dengan menawarkan keindahan alam di Belitung. Diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata, film “Laskar Pelangi” menawarkan kisah 10 anak dari Belitung yang memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Saking kerennya, film ini berhasil ngeraup untung 16,6 juta dollar AS dan mendapat Best Film FFI 2009 dan Golden Butterfly Award dari festival film anak dan remaja Iran, di tahun 2009. (sds)

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.