Minggu, 20 Mei 2018

Genmuda – Skripsi yang dikerjain dengan serius bukan cuma jadi buah tangan mahasiswa ke kampus, melainkan juga pendongkrak IP dan IPK. Dengan penggunaan istilah yang tepat, skripsi malah juga bisa jadi buku.

Contohnya adalah skripsi Allan Akbar soal mata-mata politik Hindia Belanda. Penelitian yang merupakan syarat kelulusannya dari Ilmu Sejarah UI 2012 itu kini terbit dengan judul Memata-matai Kaum Pergerakan dan diulas hingga Universitas Cornell Amerika Serikat.

Skripsi kamu pun bisa bernasib serupa. Selain dengan bikin konsep penelitian ciamik dan lain, kamu juga perlu tepat pergunakan tata bahasa. Biar lebih keren, gak ada salahnya memaki istilah Bahasa Latin di bawah ini.

1. Ad hoc

via popkey.co

Secara garis besar, istilah ad hoc berarti “untuk ini” atau “untuk kebutuhan ini.” Penggunaannya bisa dipake buat deskripsiin hal yang dibuat atau diadain untuk kebutuhan khusus dan bubar setelah kebutuhan itu tercapai.

Contoh: Rektor Universitas XYZ membuat lembaga ad hoc untuk menyelenggarakan pemilihan dekan. (Setelah ajang pemilihan dekan selesai, lembaga penyelenggaranya bubar jalan)

2. Circa

Istilah ini paling gampang dipahami dan dipakai dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia, artinya adalah “sekitar.”

Contoh: Era Victoria berlangsung circa abad XIX hingga awal abad XX di Inggris.

3. Carpe diem

via tenor.com

Istilah carpe diem muncul sejak masa Romawi yang artinya “nikmati hidup selagi bisa.”

Contoh: Kesuksesan dan keringanan beban hidup jutawan itu muncul karena prinsip carpe diem yang dia pegang teguh. (Pada kalimat itu, istilah carpe diem jadi kata benda).

4. De facto

De facto biasa dipake untuk deskripsiin “kondisi nyata.” Istilah itu bisa diartiin langsung ke Bahasa Indonesia jadi “pada kenyataannya.”

Contoh: Setelah Sultan Ageng Tirtayasa turun takhta, VOC adalah pemegang kekuasaan de facto Kerajaan Banten sementara sultannya adalah Sultan Haji. (Berarti, Sultan Haji cuma jadi pemimpin di atas kertas aja).

5. De Jure

via istimewa

Sementara itu, istilah de jure dipake saat deskripsiin sesuatu yang “berdasarkan hukum” atau “berdasarkan kesepakatan.” Bisa juga “berdasarkan klaim” atau “berdasarkan hak.”

Contoh: Secara de jure, Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 namun upaya penjajahan Belanda terus berlangsung hingga Konferensi Meja Bundar 1949. (Berarti, Indonesia menyatakan merdeka tahun 1945 tapi faktanya masih diserbu Belanda sampai 1949).

6. Ipso facto

Secara penerjemahan langsung, ipso facto berarti “berdasarkan fakta tersebut.” Penggunaannya mirip-mirip sama de facto, namun ipso facto lebih sering jadi kata sambung.

Contoh: Pangeran Charles adalah pewaris takhta Inggris. Ipso facto, dia sekaligus menjadi penjaga paham Anglican kerajaannya. (Artinya, Pangeran Charles menjadi penjaga Anglican karena dia pewaris takhta).

7. Ergo

via Istimewa

Dalam bahasa surat kabar, ergo bisa dipake untuk gantiin istilah “dengan demikian” yang biasa dipakai buat nyimpulin sesuatu.

Contoh: Belajar adalah proses mengolah ucapan, sementara ucapan hanyalah embusan angin. Ergo, belajar adalah proses mengolah embusan angin. (Dalam matematika, ergo tuh bisa juga jadi “sama dengan.”)

8. Et cetera

Et artinya “dan.” Cetera artinya “sisanya.” Digabung, et cetera berarti “dan sisanya” atau “dan lain-lain” dalam Bahasa Indonesia.

Contoh: Bisa diargumentasikan, segala perang yang melibatkan Amerika Serikat pasca abad XXI terjadi karena isu minyak bumi, misalnya Perang  Irak-Kuwait, Perang Afghanistan, Perang Irak era George W Bush, et cetera.

9. In flagrante delicto

via Istimewa

Kalo di bahasa Indonesia, istilah hukum in flagrante delicto sama artinya dengan “tertangkap basah” atau “tertangkap tangan.”

Contoh: Pejabat XYZ tidak bisa mengelak karena in flagrante delicto menerima suap. Atau, gini: Operasi in flagrante delicto KPK sepanjang 2017 membuahkan hasil optimal.

10. Per se

Istilah per se dipakai saat kamu pengen deskripsiin salah satu faktor dari banyak faktor. Dalam contoh, bisa diartiin sebagai “doang”

Contoh: Perang gerilya, per se, bukan satu-satunya faktor Kemerdekaan Indonesia. Karena, upaya diplomatis pun punya andil besar. (Berarti, perang dan jalur demokrasi dibutuhkan untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia).

11. Pro bono

via Istimewa

Istilah pro bono sering dipake media-media mancanegara buat deskripsiin “segala jenis kegiatan, termasuk kegiatan profesional, yang dilakukan untuk kepentingan publik, tanpa dipungut biaya, atau untuk kebutuhan humanis.”

Contoh: Lembaga hukum BCD menerima permohonan pendampingan Nenek Aminah di pengadilan atas dasar pro bono. Atau, gini: Lembaga hukum BCD memberi pendampingan hukum pro bono untuk Nenek Aminah di pengadilan. (Berarti, jasa lembaga hukum BCD diberi secara gratis buat Nenek Aminah).

12. Status quo

Dalam sejarah Indonesia, istilah status quo dipake buat deskripsiin kondisi yang terasa gamang.

Contoh: Jepang kalah di Perang Dunia II sementara Belanda belum tiba di Nusantara. Status quo itu dimanfaatin Golongan Muda untuk mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

13. Terra incognita

via Istimewa

Istilah ini dipake untuk menyebut area tak dikenal. Secara harfiah terra incognita emang berarti “tanah tak dikenal” dalam Bahasa Indonesia.

Contoh: Para pelaut Kerajaan Spanyol dan Portugal tak segan memakai kekerasan untuk mencapai tujuannya bahkan di terra incognita sekalipun.

14. Vox populi

Vox artinya “suara” sementara populi artinya “rakyat.”

Contoh: Vox populi menuntut President Donald Trump untuk menyudahi segala ujaran kebencian SARA-nya.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.