Selasa, 18 Desember 2018

Genmuda – Sebelum ngebedah panjang-lebar soal berita hoax, Genmuda.com mau ngingetin dulu. Artikel ini dibuat bukan supaya kamu jadi jago bikin tulisan sensasional yang bisa menipu jutaan orang, melainkan agar paham caranya ngebedain berita palsu dari yang benar.

Kalo udah ngerti, mari lanjut bacanya. Kamu kemungkinan besar udah muak ngeliat medsos gara-gara banyak banget berita hoax terutama pada kasus Ratna Sarumpaet yang menipu banyak orang di Indonesia.

Kasus kayak gini sebenarnya berasal dari skema klasik, pertama mulai dari ‘mulut ke mulut’ dishare ke grup chat di Whatsapp, terus menyebar ke media sosial, dan menjadi sulit dibedain apakah fakta atau fiksi. Next time jika kamu nemuin informasi yang ‘rada-rada’ aneg coba deh bedah tulisannya pake trik di bawah ini.

1. Apakah isinya kontroversial?

via tenor.co

Kalo informasi dalam konten yang lagi kamu perhatiin itu menimbulkan perdebatan, kamu patut mencurigai konten itu sebagai hoax. Riset Moz.com nunjukin kalo konten yang mengejutkan dan menarik bisa 45% lebih berdampak.

2. Apakah memanfaatkan berita yang viral?

Meski Moz.com, 2013 bilang kalo konten yang panjang dan bikin emosi punya kesempatan viral lebih besar, engga ada satu pihak yang tau mana konten yang bakal viral dan mana yang engga. Viralitas ibarat gelembung sabun yang tiba-tiba ada dan tiba-tiba pecah.

Yang jelas, semua konten hoax selalu milih tema tulisan berdasarkan hal yang lagi viral, alias lagi jadi bahan omongan pada masanya. Contoh, saat Ratna Sarumpaet awalnya operasi plastik terus dimanfaatkan sebagai materi politik dan diviralkan. Seharusnya kejadian kayak gitu gak perlu diviralkan segala kan.

3. Ada sedikit fakta di dalamnya

via tenor.co.

Biar makin dipercaya, berita hoax sengaja diisi beberapa fakta penting. Misalnya gini, saat ada orang pengen bikin berita hoax soal Trump, doi engga bakal lupa nulis kalo Trump udah jadi presiden Amerika Serikat, telah melarang warga dari 7 negara masuk AS, dan lagi siap-siap bangun tembok pemisah AS-Meksiko.

Abis itu, kamu bilang aja Trump udah siapin strategi ngelawan ekonomi Tiongkok atau malah doi udah nyiapin kode nuklir buat ngelawan Timur Tengah. Ramu semuanya ke dalam artikel paling engga 300 kata, orang-orang juga bakalan percaya. Kamu aja hampir percaya kan?

4. Apakah penulisnya mencoba menghubung-hubungkan fakta?

via imgur.com.

Sekarang, saatnya kita bahas kenapa sebuah hoax bisa viral. Secara teoritis, portal marketing Hubspot.com, 2014 lalu emang bilang kalo otak manusia dirancang supaya tertarik sama apapun yang menghubung-hubungkan fakta.

Misalnya gini. Fakta pertama: Trump ngelarang warga Irak, Iran, Syiria, Somalia, Sudah, Libya, dan Yaman masuk AS. Fakta kedua: Tujuh negara itu mayoritas penduduknya beragama Islam.

Apakah kamu percaya kalo dua fakta itu artinya Trump melarang warga Muslim masuk AS? Kalo iya, berarti kamu kemakan permainan fakta yang pada contoh di atas.

5. Apakah isi beritanya nyalah-nyalahin orang?

via photobucket.com.

Kecuali lagi beritain soal aksi polisi atau pengadilan, etikanya sih engga ada yang boleh disalahin dalam sebuah tulisan. Kebanyakan berita hoax sering menyudutkan salah satu pihak. Yang pasti, kamu bakal ngerasa sebel atau marah sama si kambing hitamnya.

Seperti kata Moz.com, konten yang bikin orang emosi bakal lebih cepat viral daripada yang engga. Bahkan itu semua bisa semakin viral kalo kabarnya disebar dari mulut ke mulut, seperti yang ditulis Forbes.com, Rabu (1/2).

Lebih kurang, lima hal itu yang perlu kamu ketahui supaya bisa ngebedain mana informasi hoax dan mana yang bukan. Semoga informasinya bermanfaat. Tetap cermat dan teliti ya gaes(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.