Minggu, 18 Agustus 2019
Ngulik

Berandai-andai di Masa Pra-Sejarah dalam ‘The Good Dinosaur’

Film The Good Dinosaur yang mulai tayang di Indonesia pada 27 November 2015 (foto: Disney)

Genmuda – Masuk di tahun 2015, ‘The Good Dinosaur’ bisa dibilang bukan jadi film jagoan Pixar. Praktis studio animasi tersebut udah menang besar dari ‘Inside Out’ yang tayang Agustus kemarin.

Membuntuti ‘Inside Out’ bukan berarti The Good Dinosaur engga punya magnet buat ngegaet penggemar animasi besutan Pixar dan Disney. Dari premisnya aja kita sudah diajak berandai-andai buat masuk ke zaman pra-sejarah.

Diceritakan hidup seekor stegosaurus muda bernama, Arlo (Raymond Ochoa). Berbeda dengan kedua saudaranya, Buck dan Libby, Arlo dianggap lemah dan pengecut oleh saudaranya. Engga heran jika ia diberikan tugas yang lebih ringan buat mengelola ladang mereka. (Hebat kan dinosaurus punya ladang?)

Cuplikan adegan dalam film The Good Dinosaurs (Sumber: CDN)

Arlo yang kecewa akhirnya diberikan tugas sederhana dari sang Ayah (Jeffrey Wrigh), yaitu membunuh mahluk yang mencuri lumbung makanan mereka. Di sini akhirnya, Arlo betemu dengan seorang anak manusia purba, Spot (Jack Bright).

Bukannya membunuh manusia, Arlo justru ketakutan dan membiarkan Spot lari dari jebakan tersebut. Sang Ayah pun sangat marah dan menyuruh Arlo untuk mengejar pencuri tersebut hingga masuk ke dalam daerah pegunungan.

Seakan emosi yang engga kekontrol, Sang Ayah, akhirnya sadar bahwa dirinya terlalu keras kepada putra ketiganya tersebut. Sialnya, mereka justru pergi jauh dari rumah saat badai besar datang. Di sini Arlo akhirnya berpisah dengan sang ayah.

Sekilas seperti mengingatkan saya adegan Mustafa dengan Simba di ‘Lion King’. Well, apa pun itu, Arlo dirundung rasa bersalah atas kematian ayahnya. Ia pun bertekat menebus kesalahannya dengan memburu Spot, and the adventure begin guys!

Arlo yang harus berjuang untuk menemukan jalan pulang setelah terpisah dari kawannya (Sumber: CDN)

Layaknya film Pixar, The Good Dinosaur punya cerita epik buat nguras emosi penonton. Sayangnya (mungkin) karena tema cerita ‘Dinosaur’ rasanya udah cukup banyak diangkat dalam layar lebar, menyebabkan film ini terasa banal.

Sekedar catatan buat kamu ingat, ini bukan kali pertama Disney punya cerita dengan tokoh dinosaurus. Ada film ‘Dinosaur’ di tahun 2000, walau keduanya punya teknik animasi yang beda banget, tapi tetap aja cerita ‘kadal raksasa’ bukan sesuatu yang baru buat penonton, apalagi anak-anak.

Tapi buat pengemar film-film Pixar, The Good Dinosaur seperti mengajak kita bernostalgia sama ‘Finding Nemo’ dan ‘Bug’s Life’. Kendati engga begitu spesial banget, namun kisah petualangan dalam storyline khas film Pixar layak diacungin jempol dan berhasil bikin emosi kita naik-turun.

Spot dalam film The Good Dinosaur (foto: Teachabemommy)

Baik Arlo, Spot, maupun karakter lainnya di film ini punya kekuatan buat ngejabarin premis film yang udah disinggung di atas. Suka engga suka, kita selalu diajak bertualang di dunia Disney, itu pun ada di film garapan Peter Sohn kali ini. Penasaran kan kayak gimana? Tonton aja sendiri filmnya ya.

FYI, film The Good Dinosaur juga jadi film Pixar pertama yang hadir dalam dubbing bahasa Indonesia (tanpa subtitle) dengan judul yang sudah ditranslate menjadi ‘Dino yang Baik’. So, make sure dulu kamu mau nonton yang mana.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.