Jum'at, 22 Maret 2019

Genmuda – Salah satu hal yang gak bisa berubah di dunia ada dua. Pertama, perubahan itu sendiri. Kedua, nasib pejalan kaki di Ibu Kota Indonesia tercinta. Lebay. Tapi, masih masuk logika. Untuk menjelaskannya, lihat DKI Jakarta.

Pergantian kebijakan pembangunan dateng beriringan sama pergantian kepemimpinan daerah khusus itu. Cek aja dari lima tahun terakhir pada masa kepemimpinan Gubernur Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, dan kini Anies Baswedan.

Masing-masing punya satu kebijakan ikonik, misalnya Pak Jokowi yang benahi Pasar Tanah Abang, Pak Basuki Tjahaja Purnama yang bikin tempat nongkrong Kali Jodo, lalu Pak Anies-Sandi dengan berbagai program kewirausahaannya.

Dengan pembangunan fisik dan mental gak berhenti, Jakarta yang dulu bukanlah yang sekarang. Ironisnya, nasib malang pejalan kaki masih terjadi meski perubahan terus berlangsung. Misalnya, kayak gini.

1. Debu dan polusinya gila-gilaan

LARANGAN MOTOR MELINTAS DI PROTOKOL
(Sumber: Metrotvnews.com)

Peraturan kendaraan harus ramah lingkungan kayaknya gak begitu efektif kalo jumlah mobil dan motor bertambah terus. Pejalan kaki sih yang harus menderita polusi asap kendaraan, suara bising knalpot, dan debu pembangunan. Masker dan headset jadi barang wajib.

2. Trotoarnya hilang

Jujur-jujuran aja, nih. Ruas jalan yang punya trotoar nyaman tuh cuma area Sudirman, Thamrin, dan Rasuna Said. Ada juga sih di beberapa titik di tempat nongkrong macam PIK dan Kemang. Selewat area itu, trotoar makin mengecil lalu hilang.

3. Trotoar diserobot motor

via: Tribun News
(Sumber: Tribun News)

Lima tahun lalu, trotoar di area Kota Tua Jakarta sering diserobot motor sementara jalan raya macet parah. Udah nyerobot, ngebut lagi motornya. Sekarang, bahkan trotoar di daerah Senayan bernasib serupa. Terus, pejalan kaki jalan di mana?

4. Trotoar berlubang

Trotoar Jakarta juga bisa diibaratkan area latihan kewaspadaan, seolah warganya pada pengen jadi ninja. Ada beberapa titik yang injakannya hilang dan mengancam pejalan kaki kecebur got. Mending liat ke bawah deh kalo lagi jalan.

5. Trotoarnya terhalang

via: Kompas
(Sumber: Kompas)

Halang-rintang sepanjang trotoar bukan cuma lubang, tapi juga gerobak pedagang, angkutan ngetem, kendaraan parkir sembarangan, dan parahnya bangunan semi permanen yang seenaknya berdiri di sana. Fix banget, kan para pejalan kaki disuruh terbang aja sekalian.

6. Numpang jalan di jalan raya

Berhubung warga Jakarta gak ada yang punya jetpack untuk terbang di atas segala gangguan itu, para pejalan kaki terpaksa numpang jalan di jalan raya. Akibatnya, ya. Siap-siap aja bikin macet, dimaki, sampe diserempet kendaraan.

7. Digodain

©Life Magazine
©Life Magazine

Cowok-cowok yang nongkrong di pinggir jalan, seperti gak pernah liat cewek jalan aja. Ceweknya pasti digodain. Emangnya cewek gak boleh jalan? Emangnya harus dianter-anter cowok terus? Kebiasaan itu bisa masuk kategori Catcalling loh.

8. Apapun yang terjadi, pasti diomelin

Apapun yang terjadi, terimalah. Meski trotoar kamu hilang, terhalang, berlubang, dan segala kondisi gak layak lain, pasti pejalan kaki yang salah. Bersiaplah dituduh nyeberang sembarangan atau jalan semberono, bahkan sama mereka yang menjajah trotoar (kayak video di atas).

Benar kata orang-orang. Jakarta itu keras. Kamu harus punya skill adu mulut mungkin juga adu jotos untuk bertahan hidup sebagai pejalan kaki. Bisa? Kalo gak bisa, beli mobil atau motor aja karena Jakarta lebih ramah pada pemilik kendaraan bermotor. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.