Minggu, 19 Agustus 2018

Genmuda – Besar kemungkinan istilah “blockchain” (atau “block chain”) sampai ke Kawan Muda. Sebagai teknologi finansial yang baru populer, blockchain membuat para akademisi, pegiat industri, dan ekonom penasaran.

Teknologi – atau sah-sah aja kita bilang “konsep berpikir” – itu sebenarnya dekat bagi kehidupan anak sekolah yang kerjaannya disuruh mencatat semua penjelasan guru. Para pengelana jaman dulu pun telah punya “konsep berpikir” blockchain dalam buku harian mereka.

“Konsep” blockchain juga hadir dalam kerjaan para akuntan yang mencatat segala jenis transaksi (arus keluar-masuk uang dan barang), dari buka laptop pagi-pagi sampai menutup laptop sambil kelelahan sore-sore atau mungkin besok subuhnya.

Jadi, apa itu blockchain?

via readynotesbd.com

Secara teori, teknologi itu merupakan sebuah kumpulan catatan lengkap. Apa isi catatannya? Isinya merupakan daftar transaksi jual-beli, kapan transaksi itu dibuat, dan di mana transaksi itu dilaksanakan. Familiar banget, yakan?

Bedanya, segala catatan dalam blockchain dibuat secara otomatis oleh sistem. Catatan (bisa juga dibilang data) itu begitu aman sehingga gak bisa diutak-atik pihak gak bertanggung jawab.

Emangnya ada orang yang mau utak-utik catatan transaksi? Gak kurang kerjaan tuh orang? ADA! Biasanya mereka punya niat jahat nyolong uang tanpa ingin kejahatannya terdeteksi. Yep. Mereka adalah koruptor.

Siapa penemu Blockchain?

via: Google
(Sumber: Istimewa)

Para pengamat di theeconomist, 31 Oktober 2015 sepakat kalo sistem blockchain modern (yang terotomatisasi) dipatenkan oleh Satoshi Nakamoto dalam jurnal bertema financial technology, sekitar 2008 lalu.

Berhubung nama itu hanyalah samaran (pseudonym), belum diketahui apakah Nakamoto merupakan satu orang atau sekelompok orang. Asal negaranya pun belum tentu Jepang karena bisa aja Nakamoto cuma nick-name beliau.

Namun demikian, sistem pencatatan lengkap secara digital itu telah dibahas jauh sebelumnya. Yaitu, dalam penelitian Stuart Haber dan W Scott Stornetta, berjudul “How to Time-Stamp a Digital Document” di Journal of Cryptology, 1991.

Gimana cara kerja blockchain?

via tenor.com

Satoshi Nakamoto manfaatin blockchain ketika bikin mata uang digital Bitcoin. Nakamoto butuh blockchain supaya orang-orang percaya bahwa Bitcoin beneran ada, beneran bisa ditraksaksikan, dan merupakan alat jual-beli sah.

Permasalahannya dengan bitcoin kan seperti ini: “Gimana cara orang-orang yang gak saling mengenal sama-sama percaya bahwa uang digital yang notabene gak keliatan bentuknya itu emang ada secara nyata dan bisa dipakai?”

Caranya, lewat bukti tertulis macam sertifikat. Di mana bukti tertulis itu diperoleh? Dari blockchain.

Apakah bayar kalo mau pakai blockchain?

via tenor.com

Dalam urusan jual-beli atau tukar-menukar bitcoin, blockchain gratis dipakai. Tiap kamu bertransaksi dengan bitcoin, sistem mata uang digital itu bakal mencatat aktivitas kamu, Kawan Muda.

Apabila kamu paham bahasa cryptografi yang dipakai sistem itu, kamu bisa memeriksa daftar transaksi bitcoin dari detik kamu membuka catatan itu sampai kali pertama bitcoin dipakai bertransaksi.

Penjelajahan itu bisa kamu lakukan gratis. Paling, cuma biaya internet dan biaya pendidikan cryptografi-nya aja yang mahal.

Saat bitcoin itu berpindah tangan dari satu orang ke orang lain, pemilik baru bitcoin itu pun bisa menjelajahi sejarah transaksi “kepingan” (atau bagian dari kepingan) bitcoin digital tersebut.

Gampangnya gini: catatan keuangan dalam blockchain ikut berpindah tangan seiring dengan berpindahtangannya kepingan bitcoin.

Apakah blockchain cuma bisa dipakai untuk bitcoin?

via tenor.com

Para peneliti, pelaku industri, bahkan politikus kemudian merasa “konsep berpikir” blockchain bisa diadopsi pada sektor lain.

Di sektor politik, misalnya. Catatan panjang blockchain sangat bisa dipakai untuk mendata kepindahpemilikan tanah. Soalnya banyak kasus kepemilikan ganda terhadap tanah.

Contoh kasusnya gini: Pihak A merasa tanah tempat tinggalnya sah miliknya karena dia memegang akta tanah itu selama 30 tahun. Karena sistem pencatatan buruk dan human error di pihak pejabat pencatat akta tanah, Pihak B juga punya akta tanah yang sama.

Tanah itu jadi sengketa. Pihak A dan Pihak B pun berantem hingga akhirnya masalah ini diputusin ke pengadilan. Kasus macam itu kan menguras waktu, uang, tenaga, mental, dan fisik banget.

Argumentasinya, blockchain dengan gampangnya bisa mengatasi masalah macam itu. Pihak A dan Pihak B tinggal melihat aja blockchain untuk mengetahui nama terakhir yang ada pada catatan panjang transaksi tanah sengketa. Itulah pemiliknya!

Ada contoh kasus penggunaan blockchain yang lebih berfaedah buat anak muda gak?

©Genmuda.com/2016
(Sumber: Istimewa)

ADA BANGET!

Contohnya dalam urusan desain. Kasusnya gini: Dalam sebuah perusahaan, ada satu tim desain grafis yang beranggotakan 150 orang (misalnya). Mereka ngerjain satu project permintaan klien secara bergantian.

Saat dikerjain desainer ke 48, hasil sementara itu masih sesuai permintaan klien. Project pun berlanjut. Setelah dirampungin desainer ke 150, hasilnya jauh dari permintaan klien.

Siapa yang salah? Klien pasti nyalahin orang ke-150. Padahal, belum tentu dia yang salah. Bila ada blockchain, perusahaan dan klien itu bisa mendeteksi segala jenis perubahan yang dibuat masing-masing desainer. Pelakunya pasti cepat ketahuan.

Apakah semua blockchain terbuka untuk umum?

Pada akhirnya, para akademisi dan pelaku industri ngembangin blockchain tertutup, alias private blockchain. Cuma orang-orang berizin khusus yang bisa melihat sejarah panjang dalam catatan arus transaksi itu.

Siapa yang ngasih izin khususnya? Tentu si admin yang ditunjuk para pemilik blockchain.

Menurut para peneliti di The Economist, Blockchain yang sifatnya rahasia itu bermanfaat banget dipakai di bank. Para pekerja pencatat back office bank punya data lengkap transaksi.

Jadi, mereka selalu bisa mencocokkan laporannya dengan data itu. Kerjaan pun makin cepat kelar tanpa banyak masalah, dan tanpa nyebarin data rahasia nasabah ke publik.

Kesimpulannya?

Don & Alex Tapscott bisa menyimpulkan definisi blockchain dengan singkat-pada pada buku Blockchain Revolution, 2016. Mereka menulis, “Blockchain adalah data ekonomi digital bebas kesalahan yang bisa diprogram bukan hanya untuk mencatat transaksi finansial, tapi untuk semua hal yang memiliki nilai.” (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.