Minggu, 16 Desember 2018

Genmuda – Film dokumenter “The Inconvenient Truth” (2006) bisa jadi sebuah karya epik atau cuma sekedar karya omong kosong dari seorang Al Gore, mantan wakil presiden Amerika Serikat yang berambisi membuka mata masyarakat dunia akan bahaya perubahan iklim.

Menjawab keraguan publik, satu dekate berlalu Al Gore masih aktif menyampaikan pidato kampanye pemanasan global ke seluruh dunia. Di sinilah perjuangannya dikemas oleh dua sutradara, Bonni Cohen dan Jon Shenk dalam film “An Inconvenient Sequel: Truth to Power.”

Perubahan iklim bukan sekedar omong kosong

©Paramount Pictures/2017
©Paramount Pictures/2017

Beda dari film pertamanya yang fokus pada sudut pandang dan opini Al Gore, maka dalam sekuel keduanya dimuatlah sejumlah data, serta potongan gambar dan video bencana alam akibat pemanasan global. Badai tropis, banjir bandang, penyebaran virus zika, cuaca panas, hingga kekeringan ekstrim jadi contoh yang diangkat oleh film ini.

Gak cuma ngegambarin sejumlah bencana alam dalam 10 tahun ke belakang, perjuangan Gore membangkitkan kesadaran masyarakat dunia beralih ke sumber daya energi sinar matahari dan angin turut ditentang oleh negara berkembang seperti India, yang masih ketergantungan oleh bahan bakar mineral.

Perjalanan panjang Gore ke berbagai tempat di belahan dunia, akhirnya sampai pada Konferensi Perubahan Iklim PBB tahun 2015 silam di Paris, Prancis. Sekali lagi, masalah kembali terjadi usai serangan teroris seminggu sebelum konferensi.

Masalahnya gak cuma ada pada gaya hidup, namun juga pada kebijakan penguasa

©Paramount Pictures/2017
©Paramount Pictures/2017

Biarpun hasil konferensi tersebut semua negara sepakat untuk mengurangi pemanasan global, masalah lainnya muncul pada kebijakan kepala negara. Sosok Donald Trump bisa jadi sebagai tokoh antagonis di film ini ataupun di dalam dunia nyata.

Keputusan Trump menarik keluar Amerika Serikat dari perjanjian turut menjadi kontrovesional. Gore sebagai orang yang punya andil dari Konferensi Perubahan Iklim PBB turut menyampaikan kekesalannya atas sikap Trump yang dianggap ‘konyol’ dan ‘gak bertanggung jawab’ sebagai kepala negara.

Secara keseluruhan film dokumenter ini senggaknya mampu mengajak semua masyarakat berbuat sesuatu untuk mengurangi krisis pemanasan global. Dan yang paling penting filmnya gak berusaha mendikte kamu dengan banyak teori ilmiah yang ngebosenin.

Penulis beranggapan kalo pun ada hal yang kurang diangkat oleh Gore, ada pada minimnya contoh-contoh kebiasaan kecil secara ‘personal’ yang membuat perubahan iklim semakin parah sebagaimana disinggung doi pada opening film. Narasi yang dibawakan Gore sepanjang film juga kadang bikin penonton ngantuk, dan sesekali bikin emosi naik begitu adegan ketengangan berlangsung.

Didukung oleh The Climate Reality Project Indonesia dan bekerjasama dengan Paramount Pictures, film ini mulai tayang tanggal 25 Agustus 2017 di beberapa bioskop tertentu di Indonesia.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.