Senin, 22 April 2019

Genmuda – Tepat di perayaan Tahun Baru Imlek 2019 kita bakal lebih dulu menyaksikan film “Alita: Battle Angel”. Diproduseri oleh dua mantan produser “Titanic” James Cameron dan Jon Landau film berdurasi 2 jam lebih ini wajib banget masuk movie list Kawan Muda minggu ini.

Seperti Genmuda.com pernah kasih tau, proyek Alita merupakan adaptasi dari manga berjudul serupa karya Yukito Kishiro. Terus seseru apa ya filmnya? Langsung aja simak reviewnya di bawah!

Teknologi canggih dari masa lalu

©20th Century Fox
©20th Century Fox

Film dibuka dengan narasi kehidupan di bumi pada abad ke-26. Saat ini umat manusia dan robot hidup berdampingan setelah keruntuhan kota modern di atas langit 3 abad yang lalu. Salah satu kota yang masih berdiri adalah Zalem, kota mengapung yang selama ini disokong oleh kehidupan di bawahnya.

Doktor Ido (Christoph Waltz) yang sedang mencari rongsokan suku cadang di bawah Zalem ternyata menemukan cyborg perempuan dengan kondisi rusak berat. Ido kemudian membawanya pulang untuk diperbaiki dan memberinya nama Alita (Rosa Salazar).

Beberapa bulan kemudian Alita sadar dari tidurnya. Ido lalu mencari informasi soal asal-usul Alita, namun sayangnya ingatan Alita masih belum sepenuhnya pulih. Gak lama setelahnya Alita berkenalan dengan Hugo (Keean Johnson) seorang cowok yang berprofesi sebagai pengepul suku cadang cyborg, sekaligus kenalan Ido.

Besarnya keingintahuan Alita terhadap Zalem berserta lingkungan sekitarnya perlahan mulai mengembalikan ingatannya. Kemunculan Alita juga menarik perhatian mantan istri Ido, Chiren (Jennifer Connelly) yang bekerjasama dengan Vector (Mahershala Ali) seorang penguasa Motorball, sebuah olahraga ekstrim bagi para robot. Keduanya tertarik memburu Alita karena ingin mengambil teknologi canggih yang terdapat dalam tubuhnya.

Premis sederhana dan visual yang cantik

©20th Century Fox
©20th Century Fox

Meski gak disutradarai langsung sama James Cameron, sinematik arahan Robert Rodriguez terbilang mulus. Meski 90 persen menggunakan bantuan efek komputer, setiap gambar yang ditampilkan cukup detil dan manjain mata kamu saat menonton. Mulai dari gambaran kota modern, sengitnya pertarungan Motorball, sampai sebegitu naturalnya ekspresi Alita.

Sebagaimana yang dijanjikan oleh Cameron, adegan action film Alita menjadi daya tarik tersendiri. Bukan sekedar film robot ‘dar-der-dor’ macam Terminator, Alita justru lebih mengedepankan adegan tangan kosong yang gak kalah menegangkan.

Alita seolah menawarkan pesan positif supaya lebih peduli dengan orang lain dan berani melawan ketidak adilan. Sayang aja premisnya cendrung ngebosenin dan gampang ditebak. Untungnya satu catatan yang bikin penulis suka dengan film ini adalah penggambaran sosok Alita yang terlihat lebih manusiawi, walaupun ia cuma robot. Gak lebay, karena robot satu ini ternyata bisa juga seperti manusia pada umumnya.

Kesimpulan

©20th Century Fox
©20th Century Fox

Kalo kamu tergolong suka film action dengan konsep pertarungan tangan kosong dan fitur futuristik kamu mungkin gak akan kecewa dengan film ini. Meski ratingnya 13 tahun ke atas, film ini tetep aja menampilkan adegan yang cukup sadis.

Dalam urusan konflik “Alita: Battle Angel” boleh dibilang ‘lempeng’ gitu aja. Gak ada sesuatu yang wah buat penonton dewasa karena kemasannya emang diplot untuk penonton remaja. Untuk menikmati visual yang ditawarkan penulis juga menyarankan kamu buat menonton film ini dalam format 3D. Worth it banget kok!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.