Jum'at, 17 November 2017
HiburanNgulikMusik

Album ‘The Journey’ Rendy Pandugo Bikin Kamu Terngiang Memori Masa Lalu

via: Sony Music Entertainment Indonesia(Sumber: Sony Music Entertainment Indonesia)

Genmuda – Musik easy listening harmoniskan album “The Journey.” Genjrengan gitar akustik, melodi gitar ngeblues, dan suara merdu bebas fals Rendy Pandugo berpadu dengan suara aneka instrumen. Musiknya sangat kaya dan sama sekali gak monoton meski beberapa chord gitarnya diulang-ulang.

Album yang rilis di bawah naungan Sony Music itu berisi 11 lagu dengan durasi sekitar 40 menit. Dua di antaranya diunggulin sebagai single dan dibikin video klipnya, yaitu lagu lagu kedua “Silver Rain” dan lagu ketiga “I Don’t Care.” Keduanya terdengar sangat pop kekinian.

Namun begitu, album ini gak bisa disebut beraliran pop seratus persen. Soalnya, masing-masing musik tercipta dengan keunikan masing-masing. Oleh karena itu, cukup sulit mendefinisikan aliran album ini, kecuali easy listening.

Teringat lagu-lagu hits

Contohnya gini, deh. Lagu pembuka, “Float in the Sky,” terdengar sangat folk americana. Sayup-sayup suara banjo (bisa juga sapeh Kalimantan) dan hentakan drumnya mengisyaratkan lagu pembuka ini sangat terinspirasi dari “Lovers Eyes” dan “Lover of the Light” karya Mumford and Sons, atau dari “Ho Hey” karya The Lumineers.

Kalo gitu, apakah album andalan Rendy Pandugo ini bisa dibilang album folk/country? Gak juga. Emang album ini paling cocok disebut album easy listening. Terutama, karena lagu keempatnya yang berjudul “7 Days.”

Sekelebat, ada bagian intro verse ini yang bikin teringat lagu “You’ve Got A Friend” karya James Taylor dan Carole King. Tapi keseluruhannya jauh beda dari lagu jadul itu. Kalo boleh bilang, malah nuansa musiknya mirip seperti lagu John Mayer dan para pemenang American Idol dari season ke season.

Bagian verse lagu kelima “Don’t Call Me Baby” pun mengingatkan pendengar akan lagu lain. Penikmat anime “Naruto” pasti ngerasa kalo ada bait lagu yang nadanya mirip lagu “Wind” karya Akeboshi, soundtrack penutup anime laris tersebut. Tapi, ketukan kedua lagu itu beda jauh banget.

Samar-samar, lagu keenamnya “Won’t Let Me Down” terasa kayak lagu “Way Down We Go” karya Kaleo yang terpilih jadi Soundtrack film “Logan.” Sementara itu, lagu ketujuhnya “By My Side” seolah pengen mengenang masa lalu karena bikin otak terngiang lagu “Yang Terbaik Untukmu” karya Ada Band x Gita Gutawa.

Lagu “Bad Company,” “Steal Away,” “Snap,” dan “I Know the Answer” pun demikian. Semuanya terasa kayak pernah didenger sebelumnya.

Lagu bagus = lagu yang bikin orang mengenang sesuatu

Meski terkesan mirip lagu lain, bukan berarti Rendi Pandugo nyontek, plagiat, atau gak kreatif. Justru sebaliknya. Irama yang doi buat begitu “ngena,” sehingga bikin orang yang pertama kali denger ngerasa pernah denger lalu mulai membayang-bayangkan lagu lama yang menyimpan memori manis masa lalu.

Kamu yang pernah nonton film “Hari untuk Amanda” atau malah ngefans sama pengisi soundtrack film itu, yaitu Music for Sale, pasti bakalan suka album ini. Soalnya, setipe banget.

Lirik Bahasa Inggris

Tiap lagu dinyanyiin dengan lirik berbahasa Inggris. Dengan cara ngomong Bahasa Inggris seperti di album, Rendy Pandugo gak terdengar seperti orang Indonesia. Logatnya mirip banget penyanyi cowok Amerika Serikat. Kalaupun ketebak doi orang Asia, mungkin banyak yang ngira doi dari Filipina karena logatnya itu.

Secara keseluruhan, cinta jadi tema utama albumnya. Secara khusus, Rendy Pandugo lagi curhat mengenai perjalanan merintis karier di dunia musik sejak bertahun-tahun lalu. Makanya, album yang sangat berpotensi ngehits ini dijudulin “The Journey.”

Melalui irama dan lirik lagunya, Rendy Pandugo sukses bikin baper. Kalo boleh curhat sedikit seih, Genmuda.com mau bilang kalo lagu “Float In the Sky,” “By My Side,” dan “I Know the Answer” bikin merinding saking ngenanya. Kamu gimana? Lagu apa yang paling kamu suka di album ini?

Biar kamu bisa jawab pertanyaan itu, denger lagunya di bawah ini.

https://open.spotify.com/album/1lp7Kx5dTeRZh3mAqT53wB

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.