Minggu, 22 Oktober 2017
National[IS]me

5 Penyebab Keborosan Ini bisa Kamu Hindari Asal Tau Ilmunya, Gaes!

©Genmuda.com/2017 Liki©Genmuda.com/2017 Liki

Genmuda – Manfaat nabung keuangan bukan cuma dirasain di “masa depan” tapi juga di “masa sekarang.” Remaja 13-18 tahun yang biasa ngatur keuangan tetap mampu mengikuti gaya hidup kekinian seperti yang dipertontonkan di media sosial, loh.

“Remaja belum berpikir untuk menabung demi dana pensiun atau beli rumah. Namun, menabung untuk beli baju, tas, atau ponsel jelas dilakukan semua remaja demi eksistensinya dalam pergaulan,” kata psikolog klinis Tara de Thouars dalam sesi diskusi Bicara Uang yang diadakan bersama Permata Bank di Jakarta, Selasa pagi (19/9).

Diskusi tersebut juga dihadiri Head of Customer Segmentation & Marketing Permata Bank Ivy Widjaja. Para pembicara ngebahas pentingnya orangtua ngajarin dan nyontohin anak remajanya tentang cara terbaik mengatur keuangan.

Dalam satu sesi, diskusinya juga ngebahas berbagai faktor penyebab remaja hobinya jajan dan belanja sehingga uang habis sebelum waktunya. Biar kamu paham dan bisa nabung, yuk ketahui penyebab keborosannya di bawah ini lalu hindari.

1. Sikap bawaan anak remaja

via tenor.com

Masa remaja merupakan masa transisi yang diwarnai berbagai gejolak emosi. Selain galau percintaan, gejolak tersebut juga berbentuk spontanitas berbelanja. Tara bilang, “Itulah sebabnya, remaja butuh bantuan orang lain supaya diajari cara mengelola keuangan. Selain oleh keluarga, oleh profesional atau teman yang lebih paham.”

Namun demikian, orangtua gak boleh terlalu otoriter karena para remaja sudah sewajarnya belajar bertanggungjawab dengan uang masing-masing. “Komunikasikan hal itu kepada orangtua. Carilah waktu tepat untuk membicarakan pengaturan keuangan supaya orangtua tidak tersinggung,” terang Tara.

2. Pergaulan teman sebaya

Bergaul dalam lingkungan tukang belanja bikin kamu jadi tukang belanja juga. Kalo gak punya barang yang lagi tren, nanti dibilang cupu terus gak eksis di pergaulan. Itulah sebabnya kamu dan remaja lain pengen beli ini itu, yang kalo dipikir-pikir lagi, gak dibutuhin banget.

Pencegahannya bisa dengan memperluas lingkaran pergaulan. “Namun, harus waspada supaya tidak menclak-menclok tanpa pendirian,” kata Tara.

3. Media sosial

©Genmuda.com/2017 TIM
Psikolog klinis Tara de Thouars berpose dengan buku panduan Bicara Uang di Jakarta, Selasa siang (19/9). ©Genmuda.com/2017 TIM

Berdasarkan pengalaman sebagai ibu dari seorang remaja dan seorang anak muda, Ivy bilang, pengaruh orangtua beradu dengan pengaruh media sosial terhadap seorang remaja.

“Persaingan pengaruhnya cukup sulit mengingat media sosial selalu menyertai kemanapun anak muda berada. Sementara itu, waktu remaja bersama orangtuanya sangat terbatas,” kata Ivy.

4. Sikap orangtua

Pemborosan seorang remaja juga terjadi salah satunya akibat sikap orangtua. Misalnya, sikap orangtua yang gampang menghamburkan uang cenderung diikuti anaknya. Begitu juga dengan sikap orangtua yang suka nabung.

5. Belum manfaatin produk-produk keuangan

©Genmuda.com/2017 TIM
Ivy Widjaja berfoto setelah diskusi Bicara Uang di Jakarta, Selasa (19/9). ©Genmuda.com/2017 TIM

Ketidaktahuan remaja tentang cara nabung pun ada pengaruhnya. Kamu gak bakalan mungkin menyisihkan uang untuk beli rumah atau naik haji sambil tetep gaul kalo gak tau ilmunya, kan? “Jumlah menabung rutinnya bisa didikskusikan lagi antara orangtua dan anak,” kata Tara.

Salah satu cara supaya bisa nabung yaitu dengan manfaatin berbagai produk keuangan, seperti tabungan pendidikan, tabungan haji, hingga tabungan pensiun. “Berbagai jenis tabungan yang ditawarkan bank bukanlah hal yang membingungkan. Semua itu dibuat untuk membantu nasabah remaja merancang keuangannya,” kata Ivy.

Untuk menyebarkan pengetahuan pengelolaan keuangan itulah beliau merasa diskusi Bicara Uang penting. Pada intinya, remaja pasti butuh bantuan dalam mengatur keuangannya. Kalo orangtua, teman, atau mentor gak bisa bantu, selalu ada para profesional di bank yang diandalkan. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.