Rabu, 15 Agustus 2018

Genmuda – Kampus pada tahun ajaran baru ibarat medan perangnya pencari pengikut. Berbagai pihak bersaing menebar pengaruh, membentuk pemikiran mahasiswa baru hingga jadi anggota kelompok tertentu setelah lulus.

Target utamanya mahasiswa baru (maba) karena maba masih polos banget, masih belum paham gimana cara kerja dunia kampus.

Kamu gak usah mikir teori konspirasi. Coba aja lihat yang setiap universitas lakuin. Mereka mengajar mati-matian tiap mahasiswa supaya pemikiran ilmiahnya terbentuk dan melanjutkan kehidupan akademis kampus.

Harapannya, para mahasiswa bisa meneruskan pendidikan, melamar sebagai peneliti, jadi dosen, hingga akhirnya jadi profesor yang mencetak para peneliti baru di bawah naungan universitas itu.

Para senior dan alumni pun lakuin hal serupa. Supaya mahasiswa dengan segala ilmunya mau bekerja di kantor (atau mungkin partai) senior atau alumni tersebut.

Itu bisa terjadi karena dunia kampus beserta penghuninya relatif lebih terbuka ketimbang SMA. Sialnya, gak jarang, paham radikal juga ikutan menyusup ke dalam kehidupan kampus.

Salah satunya terjadi di Universitas Riau (UNRI). Kepolisian menangkap 3 orang terduga teroris di UNRI. Salah satunya malah suka pamer bom kecil rakitan doi kepada para junior.

Bahaya banget kan kalo kamu sampai terpengaruh paham-paham radikal macam itu. Untuk mempersiapkan diri, kamu harus tau 5 hal tentang kasus radikalisme masuk kampus, gaes. Bersiaplah!

1. Masuk dari berbagai sisi

via Istimewa
Mahasiswa baru adalah target utama paham radikalisme. (Sumber: Istimewa)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan, paham radikalisme masuk ke kampus lewat mahasiswa senior, staf pengajar, atau dosen. Contohnya dilakuin salah satu tersangka ke juniornya.

Bukan maksud meminta kamu untuk gak melulu percaya sama orang. Tapi, ada baiknya kamu mengkritisi semua omongan dosen, senior, bahkan teman kampus. Siapa tau, omongan itu menjerumuskan kamu ke pengikut paham radikal alias jadi teroris.

2. Waspadai link-link digital

via Istimewa
(Sumber: Istimewa)

Selain memetakan (artinya, menyelidiki) sejumlah dosen atau tenaga kampus yang diduga memiliki paham radikal, BNPT juga memetakan cara lain menyebar paham itu. Yaitu, lewat internet.

“Dengan teknologi informasi digital, paham itu menyebar cepat. Sangat sulit memonitornya. Sambil diam saja, seseorang bisa membuka konten itu,” kata Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius, Kepala BNPT dikutip media.

3. Kelompok radikal sifatnya secret society

via edinburghsecretsociety.wordpress.com
(Sumber: edinburghsecretsociety.wordpress.com)

Semua organisasi di kampus pada dasarnya memiliki daftar anggota tetap dan mengadakan kegiatan khusus anggota. Namun demikian, perekrutan anggota pasti dilakuin secara terbuka. Semua orang boleh gabung.

Lain dari organisasi radikal yang cirinya merupakan organisasi tertutup atau secret society. “Kita bisa mengidentifikasi kelompok yang memisahkan diri, bikin kelompok eksklusif, dan tidak boleh dimasuki sembarang orang,” kata Pak Suhardi Alius.

Kalo di film-film, organisasi radikal di kampus sama aja kayak mafia. Seseorang bisa menjadi anggota kelompok itu bila dan hanya bila mendapat rekomendasi atau diajak anggota lain. Nah loh.

4. Paham itu masuk universitas negeri

via Istimewa
Sumber: Istimewa

Gak ada kampus yang kebal sama para penyusup radikal. Dikutip dw.comDirektur Pencegahan BNPT, Hamli menyebut beberapa kampus yang terpapar paham radikal.

Di antaranya, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya.

5. Orang berpendidikan tinggi bisa jadi radikal

via independent.co.uk
Ini Osama bin Laden, pengenyam pendidikan tinggi yang jadi aktor utama Al-Qaeda. (Sumber: independent.co.uk)

Lain dari pemahaman umum, paham radikal juga bisa masuk ke orang-orang terpelajar bukan hanya orang berpendidikan rendah. Di Timur Tengah contohnya adalah Osama bin Laden.

Aktor utama Al Qaeda, organisasi yang dicap teroris itu bersekolah di SMA elit Al-Thager Arab Saudi dan lanjutin kuliah ke Universitas King Abdulazeez Arab Saudi, jurusan Insinyur Sipil.

Analis keamanan Timur Tengah, Alto Labetubun menyimpulkan, penerimaan paham radikalisme gak ada hubungannya sama pendidikan. Dia bilang, sebab utamanya adalah psikologis.

“Paham radikalisme masuk karena tidak adanya pegangan moral pada diri seseorang,” tutur Alto. Mereka yang pintar merasa kepintaran mereka tidak ada manfaatnya untuk membangun negeri kecuali dengan bergabung dengan organisasi radikal tersebut.

Kesimpulan

Genmuda.com paham banget, proses pencarian jati diri terus berlanjut dari bangku SMA ke bangku kuliah. Namun, saat nama kamu tercatat dalam daftar mahasiswa adalah waktu yang tepat untuk punya pegangan moral.

Segala saran, ajakan, dan tugas dari para penghuni kampus boleh aja kamu lakuin asalkan gak merugikan diri sendiri dan orang lain, apalagi sampai mengancam keselamatan.

Jangan mau dijanjiin Surga tapi nyatanya kamu cuma dijadiin pion belaka oleh pihak-pihak gak bertanggung jawabIni berlaku buat cowok atau cewek loh, jadi mulai sekarang pintar-pintar bergaul ya, gengs! (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.