Rabu, 22 Mei 2019

Genmuda – Meski engga sepopuler rock atau EDM, musik folk selalu punya ruang dan bisa dinikmati masyarakat dari masa ke masa. Bukannya tergerus perkembangan jaman, bentuk musik dan lirik yang dibawakan justru berevolusi tanpa ninggalin identitas awal.

Band-band macam The Lumineers, Mumford & Sons, Imagine Dragon, dan Kodaline pun muncul membawakan musik bernuansa folk. Di Indonesia, ada Angsa dan Serigala, The Trees and The Wild, atau Barasuara yang musiknya tergolong berirama folk.

International Folk Music Council pada 1955 mendefinisikan musik folk sebagai musik yang disebarkan secara lisan dan berkembang tanpa terpengaruh musik populer atau aliran lainnya. Dengan kata lain, alirannya juga bisa dibilang indie.

Aliran tersebut terus diterima publik dan popularitasnya cenderung meningkat. Dalam waktu dekat, bahkan akan ada festival musik LaLaLa Fest di Lembang, Bandung yang mengundang sejumlah musisi bernuansa folk. Apa ya yang membuat aliran ini begitu diterima?

1. Mengekspresikan suasana masyarakat pada umumnya

via indonesiaonstage.com
Endah N Rhesa pun bisa diargumentasikan punya nuansa folk. (Sumber: indonesiaonstage.com)

Musik tradisional selalu disebut-sebut sebagai cikal-bakal musik folk. Oleh sebab itu musiknya selalu bisa dinikmati. Makin spesifik irama musiknya, makin spesifik juga publik yang menyukai lagu itu.

2. Siapapun bisa memainkannya

Karena berasal dari ekspresi warga, lagu-lagu folk pun bisa terlahir dengan sendirinya dari tangan musisi yang engga mengenyam pendidikan musik sekalipun. Karenanya, penciptaan musik folk diistilahkan dalam Bahasa Inggris dengan kata ‘created’ bukannya ‘compossed.’

3. Liriknya menyesuaikan cara bertutur warga lokal

via floatproject.com
Band float. (Sumber: floatproject.com)

Pilihan kata dan susunan bahasa dalam lagu folk tentu aja senada dengan cara bertutur warga lokal. Musik folk Indonesia pastinya dibuat dengan kosa kata dan permainan kata dalam Bahasa Indonesia. Begitu pula lirik lagu folk di daerah lain. Dengan begitu, lagunya jadi mudah dimengerti.

4. Mudah dinyanyikan

Karena lirik dan musiknya sudah sesuai dengan ekspresi warga itulah musik folk atau yang bernuansa folk jadi mudah dinyanyiin. Selain itu, musik folk pada umumnya dibuat dengan cara lisan, bukannya ditulis dan dikalkulasi dalam partitur musik.

5. Bisa dimainkan meski tanpa perlengkapan listrik

via mtv.id
Iga Massardi Barasuara sering banget tampil pakai baju batik. Kurang folk apa lagi nih nuansanya. (Sumber: mtv.id)

Lagu folk turut menawarkan kemudahan dalam memainkannya. Engga perlu gitar listrik, ampli gede, dan sound system puluhan ribu watt buat memainkan musik folk. Gitar kopong, kahon, dan kecrekan aja udah cukup.

Kesederhanaan itu justru jadi daya tarik musik folk menurut seorang peneliti musik bernama Samuel L Forcucci yang pendapatnya dikutip The-Artifice.com. Menurut Kawan Muda, hal apa lagi sih yang bikin musik folk segitu bisa dinikmatinya? Tulis dong komentarnya di bawah biar nanti kita godain. He-he. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.