Rabu, 11 Desember 2019
Hiburan

35 Tahun Berkarya, Garin Nugroho Terima Penghargaan Seni dan Sastra dari Pemerintah Prancis

Duta Besar Prancis untuk Indonesia Corinne Breuzé dan Garin Nugroho di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Genmuda – Engga kerasa, udah 35 tahun sutradara Garin Nugroho berkarya di industri perfilman Tanah Air. Hasil jerih payahnya selama puluhan tahun itu pun kini telah berbuah manis, terbukti lewat sebuah penghargaan yang baru aja diterimanya dari pemerintah Prancis.

Garin berhasil nerima penghargaan di bidang seni dan sastra dari pemerintah Prancis. Penghargaan berupa lencana tanda jasa ‘Chevalier Ordre des Arts et des Lettres’ itu dianugerahi langsung kepada beliau oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Corinne Breuzé.

Menurut pemerintah Prancis, Garin adalah sosok pemimpin generasi baru sutradara Indonesia yang punya sisi puitis dan kepedulian pada estetika dalam tulisannya yang mengandung pesan sosial dan politik. Beliau punya visi pribadi terkait multikulturalisme, politik, dan komunikasi, yang beliau sebut sebagai “Indonesia Baru”.

Direktur IFI Marc Piton, Christine Hakim, Garin Nugroho, dan Duta Besar Prancis untuk Indonesia Corinne Breuzé di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Direktur IFI Marc Piton, Christine Hakim, Garin Nugroho, dan Duta Besar Prancis untuk Indonesia Corinne Breuzé di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Garin adalah lulusan Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Indonesia yang memulai karir sebagai sutradara lewat film ‘Cinta dalam Sepotong Roti’ di tahun 1991 dan mampu ngeraih enam Piala Citra berkat film tersebut. Beliau pun bisa terhubung dengan Prancis lewat Festival Cannes, di mana film ‘Daun di atas Bantal’ (1998) dan ‘Serambi’ (2006) karyanya pernah dinominasiin dalam kategori ‘Un certain regard’.

Yang lebih menariknya lagi, Garin bahkan pernah diminta pemerintah Australia buat ngegarap sebuah film berjudul ‘Opera Jawa’ dalam rangka peringatan ulang tahun Mozart yang ke-250. Film tersebut lalu beliau adaptasi jadi sebuah pertunjukan teater dan pernah ditampilin di Swiss. Dengan demikian engga heran kan kalau bakatnya sangat diakui oleh para kritikus dan masyarakat pecinta film.

Garin Nugroho di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Garin Nugroho di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Perjuangan Anda yang tanpa kenal lelah itulah, namun juga usaha Anda untuk membesarkan dunia perfilman yang ingin kami apresiasi,” kata Duta Besar Prancis, Corinne Breuzé di kediamannya di kawasan Menteng, Selasa (26/4).

Well, Garin sendiri berpendapat kalau penghargaan ‘Chevalier Ordre des Arts et des Lettres’ merupakan “hadiah terbaik” yang diperolehnya dari 35 tahun dirinya berkarya. Beliau pun rencananya bakal ngerayain masa 35 tahun tersebut di kota-kota lain, termasuk Yogyakarta.

FYI, pada 27 Mei nanti, Garin bakal nampilin instalasi seni berjudul ‘Air Mata Salvador Dali’. Selanjutnya pada 22 September mendatang, beliau juga bakal nayangin film hitam putih dengan iringan orchestra gamelan berjudul ‘Setan Jawa’. Selain itu, ada pula satu karya lainnya berjudul ‘Nyai’, film pertama dengan satu shot tanpa dipotong dalam durasi 1,5 jam.

Christine Hakim, Garin Nugroho, dan Reza Rahadian di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Christine Hakim, Garin Nugroho, dan Reza Rahadian di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Tapi, selama 35 tahun ini, sebenarnya kayak gimana sih Garin ngelihat perjalanan karirnya? Kepada Genmuda.com saat ditemui usai nerima ‘Ordre des Arts et des Lettres’, beliau nyimpulin bahwa, “Di negeri ini, menjadi personal itu penuh tantangan tapi indah.”

Terlepas dari keterlibatannya di dunia politik saat ini, Garin sebenarnya masih punya banyak hal yang ingin dicapai dalam industri perfilman. Namun demikian, beliau sadar kalau setiap periode bakal ada generasi baru. Beliau negasin pula kalau “semangat bebas dan personal” harus terus digali dari industri perfilman Tanah Air.

Justru makin bagus tumbuh Generasi Muda dan melahirkan sutradara baru. Makin muda makin bagus dan harus terjadi,” ujar Garin. “

“Ini era digital, jadi era yang bisa untuk lompatan. Gadget bisa jadi laboratorium, pemasaran, dan penciptaan. Setiap orang bersaing di tangannya sendiri-sendiri. Persaingan jadi euforia di mana-mana. Jadilah personal, itu yang penting. Karena kamu anak dari penciptaan, menciptalah,” tutupnya.

Christine Hakim di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Christine Hakim di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Sementara itu, sebagai aktris yang udah terlibat dalam tiga film Garin, Christine Hakim ngelihat bahwa Garin adalah sosok penting bagi sejarah perfilman Indonesia. Di saat perfilman Indonesia lagi menurun, Garin tetap berusaha buat ngeeksplor dirinya dan pertahanin jati diri film Indonesia. Singkatnya, beliau ngelihat Garin sebagai sosok “jenius”, yang saking kreatifnya terkadang perlu ‘direm’.

“Saya melihat Garin adalah salah satu sutradara yang penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Saya juga menjadi saksi sejarah perfilman Indonesia, bagaimana karya-karya beliau selalu ditunggu di festival film internasional.” Jelas aktris kawakan yang tahun ini sibuk terlibat di empat film dan berencana ngeproduksi sebuah film.

“Film Garin sudah menjadi duta bagi perfilman Indonesia dan juga Indonesia,” pungkasnya.

Reza Rahadian di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Reza Rahadian di acara penganugerahan Chevalier Ordre des Arts et des Lettres kepada Garin di kediaman Duta Besar Prancis di kawasan Menteng, Selasa (26/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Engga jauh beda dari Christine, aktor muda berbakat, Reza Rahadian, yang antara lain kerja sama dengan Garin lewat film ‘Guru Bangsa: Tjokroaminoto’ dan sebuah pertunjukan retrospeksi perempuan dalam film, juga ngelihat sang sutradara berusia 55 tahun sebagai sosok yang engga boleh dilupain dari sejarah perfilman Indonesia.

Doi nganggap Garin sebagai sosok “unik” sekaligus “pendongeng yang cerdas”. Doi pun awalnya sempat ngira kalau Garin adalah sosok yang serius, tapi ternyata aslinya nyengengin banget.

Buat saya, sosok Mas Garin bukan hanya sosok filmmaker yang hebat. Tapi, saya rasa Generasi Muda jaman sekarang perlu mengetahui bahwa Garin Nugroho adalah salah satu orang yang dulu sebelum gembar-gembor kebangkitan film nasional sudah membangkitkan secara tidak langsung dan terus konsisten membuat film,” tandas Reza, yang lima filmnya bakal tayang di sepanjang tahun ini.

Sekali lagi kita ucapin selamat deh buat Garin Nugroho! Semoga ke depannya kita masih bisa ngelihat karya-karya khas beliau dan makin banyak sutradara muda berbakat yang bisa ngikutin jejak beliau. Hidup perfilman Indonesia! (sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer